Ombak dan pantai tetap berbicara
bulan tetap bersinar di angkasa
bintang tetap memimpin nakhoda
bahtera yang berlabuh sudah tiada
Kerdip sinar di tengah lautan
sesekali melambung perasaan
kadang tenggelam di dasar kenangan
kadang terapung di arus pengalaman
Bahtera sudah berlayar pergi
megah layarnya membawa diri
entah ke mana destinasi
entah siapa yang mengemudi
Kalau nakhoda masih merindu
pelabuhan ini tetap menunggu
pantai ini masih merayu
ombak ini masih berlagu
Friday, May 12, 2006
Wednesday, May 03, 2006
Angkuh
Apakah yang tiada di dunia ini
yang ada di syurga firdausi
sedangkan semuanya dapat kubeli
dengan hartaku yang tetap berbaki?
Yang mana satu perlu kupandu
antara berbelas kereta mewahku
di jalan lurus mahupun yang berliku
untuk ke syurga yang kau sebut-sebut itu?
Sebesar mana tandingannya
antara puluhan mahligai dan singgahsana
yang kumiliki seluas saujana
dapat dibandingkan dengan di syurga?
Sesungguhnya
hartamu bisa membeli dunia
kereta mewahmu bisa menjelajah benua
mahligai dan singgahsanamu bisa mengekang cuaca
Demi sesungguhnya
hartamu tak bisa menebus mati
kereta mewahmu tak bisa membawamu lari
mahligai dan singgahsanamu tak bisa menembok diri
tatkala Izrail bertandang nanti
yang ada di syurga firdausi
sedangkan semuanya dapat kubeli
dengan hartaku yang tetap berbaki?
Yang mana satu perlu kupandu
antara berbelas kereta mewahku
di jalan lurus mahupun yang berliku
untuk ke syurga yang kau sebut-sebut itu?
Sebesar mana tandingannya
antara puluhan mahligai dan singgahsana
yang kumiliki seluas saujana
dapat dibandingkan dengan di syurga?
Sesungguhnya
hartamu bisa membeli dunia
kereta mewahmu bisa menjelajah benua
mahligai dan singgahsanamu bisa mengekang cuaca
Demi sesungguhnya
hartamu tak bisa menebus mati
kereta mewahmu tak bisa membawamu lari
mahligai dan singgahsanamu tak bisa menembok diri
tatkala Izrail bertandang nanti
Sunday, April 30, 2006
Rugi
(ilham daripada Kereta Mayat)
Banyaknya niat yang tersemat
hingga melimpah di kesumat
namun tiada satu pun daripadanya
Nama Allah menjadi kalimat
Banyaknya air mata yang menitis
hingga basah ke bibir yang manis
namun tiada satu pun daripadanya
menyesali pahala yang semakin tipis
Banyaknya kata dan bicara
hingga tuli setiap telinga
namun tiada satu pun daripadanya
menyedarkan insan pada neraka
Banyaknya usia yang terlepas
hingga semakin semput helaan nafas
namun tiada satu pun daripadanya
mengenangkan azab yang ganas
Banyaknya niat yang tersemat
hingga melimpah di kesumat
namun tiada satu pun daripadanya
Nama Allah menjadi kalimat
Banyaknya air mata yang menitis
hingga basah ke bibir yang manis
namun tiada satu pun daripadanya
menyesali pahala yang semakin tipis
Banyaknya kata dan bicara
hingga tuli setiap telinga
namun tiada satu pun daripadanya
menyedarkan insan pada neraka
Banyaknya usia yang terlepas
hingga semakin semput helaan nafas
namun tiada satu pun daripadanya
mengenangkan azab yang ganas
Saturday, April 29, 2006
Bukan Aku
Biarpun subur menghijau
teguh dan tegap antara belantara
memberi teduh pada yang bara
aku bukan antara mereka
Padanya sumber rezeki
dan benih yang membesarkan
lalu kehijauan dihamparkan
aku tak mau jadi sebahagian
Ada sarang di dalamnya
tempat unggas berlindung
mahupun tempat menyuburkan untung
aku tak mau menanggung
teguh dan tegap antara belantara
memberi teduh pada yang bara
aku bukan antara mereka
Padanya sumber rezeki
dan benih yang membesarkan
lalu kehijauan dihamparkan
aku tak mau jadi sebahagian
Ada sarang di dalamnya
tempat unggas berlindung
mahupun tempat menyuburkan untung
aku tak mau menanggung
Thursday, April 20, 2006
Berikan Aku Tanda
Mengapa kau semakin jauh
sedang aku semakin resah
cemburu yang kian menerjah
membakar semakin parah
Apakah aku umpama lebah
yang menghurung kelopak pagi
masih kuncup bermadi embun
masih redup dan merimbun?
Seandainya aku langau yang bising
aku rela jauh terasing
lalu berikan aku erti
agar persoalan menjadi pasti
Lalu untuk mengundur diri
demimu aku pergi...
sedang aku semakin resah
cemburu yang kian menerjah
membakar semakin parah
Apakah aku umpama lebah
yang menghurung kelopak pagi
masih kuncup bermadi embun
masih redup dan merimbun?
Seandainya aku langau yang bising
aku rela jauh terasing
lalu berikan aku erti
agar persoalan menjadi pasti
Lalu untuk mengundur diri
demimu aku pergi...
Labels:
Teddy
Saturday, April 08, 2006
Aku Rindukan Bintang Itu
Aku rindukan bintang itu
yang bersinar di langit rindu
namun yang jernih di telaga cinta
ternyata bukan cahayanya
Aku rindukan bintang itu
yang mengerdip melayan syahdu
namun yang berkilau di laman hati
ternyata bukan diri ini
Aku rindukan bintang itu
kini semakin jauh dariku
dan semakin sepi di jiwa
kerana kau semakin tiada
yang bersinar di langit rindu
namun yang jernih di telaga cinta
ternyata bukan cahayanya
Aku rindukan bintang itu
yang mengerdip melayan syahdu
namun yang berkilau di laman hati
ternyata bukan diri ini
Aku rindukan bintang itu
kini semakin jauh dariku
dan semakin sepi di jiwa
kerana kau semakin tiada
Labels:
Teddy
Wednesday, April 05, 2006
Bukan Berlian Aku
kusangkakan berbaloi
melepaskan dirimu
untuk menggenggam
berlian idaman
rupa-rupanya kilau
yang memancarkan sinar
mencari gagang
yang di seberang pagar
lalu genggaman yang kulepaskan
berganti kekosongan
di tapak tangan
melepaskan dirimu
untuk menggenggam
berlian idaman
rupa-rupanya kilau
yang memancarkan sinar
mencari gagang
yang di seberang pagar
lalu genggaman yang kulepaskan
berganti kekosongan
di tapak tangan
Monday, April 03, 2006
Salah Aku Sendiri
salah aku sendiri
menabur benih
di laman hati
salah aku sendiri
menyiram embun
di tasik madu
salah aku sendiri
lupa menunduk
kembali ke bumi
menabur benih
di laman hati
salah aku sendiri
menyiram embun
di tasik madu
salah aku sendiri
lupa menunduk
kembali ke bumi
Labels:
Teddy
Apa Yang Aku Dapat?
Jadi apa sebenarnya yang aku dapat?
Dari lima tahun ikatan
bertungkus-lumus tak ingat Tuhan
demi menghasilkan kepuasan
bukan untuk aku
tapi untuk itu
Lalu apa yang aku dapat?
Sesudah mengabaikan keluarga
sesudah melayarkan alpa
Dari lima tahun ikatan
bertungkus-lumus tak ingat Tuhan
demi menghasilkan kepuasan
bukan untuk aku
tapi untuk itu
Lalu apa yang aku dapat?
Sesudah mengabaikan keluarga
sesudah melayarkan alpa
Tak Boleh Ke Mana
Aku tak boleh ke mana
terikat sekian lama
jerih payah yang kubayar
demi mengharap yang sekadar
Namun itu pun kecewa
yang dapat hanya hampa
jerih payah tiada harga rupa-rupanya
diikat atau tidak, sama saja
terikat sekian lama
jerih payah yang kubayar
demi mengharap yang sekadar
Namun itu pun kecewa
yang dapat hanya hampa
jerih payah tiada harga rupa-rupanya
diikat atau tidak, sama saja
Thursday, March 30, 2006
Pemberi dan Penerima
aku tulis apa yang aku suka
kau tafsir apa yang kau sangka
aku faham apa yang aku rasa
tak semestinya faham kita sama
dia baca apa yang dia suka
dia tafsir apa yang dia sangka
dia faham apa yang dia rasa
tak semestinya faham kalian sama
lalu apa yang kau tulis
adalah apa yang kau baca
tapi apa yang aku ajar
tak semestinya kau belajar
kau tafsir apa yang kau sangka
aku faham apa yang aku rasa
tak semestinya faham kita sama
dia baca apa yang dia suka
dia tafsir apa yang dia sangka
dia faham apa yang dia rasa
tak semestinya faham kalian sama
lalu apa yang kau tulis
adalah apa yang kau baca
tapi apa yang aku ajar
tak semestinya kau belajar
Wednesday, March 22, 2006
Ini Hatiku
Ini hatiku
ambillah dan simpan
semadikan ia di atas kayangan
Ini hatiku
tak ternilai harganya
jangan kau sepahkan merata-rata
Ini hatiku
hanya satu yang aku ada
jangan hancurkan hingga tak bersisa
Ini hatiku
padamu kuserahkan
balutlah ia dengan keikhlasan
ambillah dan simpan
semadikan ia di atas kayangan
Ini hatiku
tak ternilai harganya
jangan kau sepahkan merata-rata
Ini hatiku
hanya satu yang aku ada
jangan hancurkan hingga tak bersisa
Ini hatiku
padamu kuserahkan
balutlah ia dengan keikhlasan
Labels:
Teddy
Wednesday, March 15, 2006
Jarak
Ada jarak yang dicipta
antara kita berdua
sungguh dapat kurasa
begitu amat ketara
Simbahkan antara jurang ini
minyak yang panas berapi
hingga rentung sekujur jasad
hingga luluh sekeping hati
Puas sudah dalam usaha
ikhtiar sudah tidak bersisa
sudah habis segala upaya
masih berjarak antara kita
Dan titi yang hendak menghubung
tidak pernah dapat disambung...
antara kita berdua
sungguh dapat kurasa
begitu amat ketara
Simbahkan antara jurang ini
minyak yang panas berapi
hingga rentung sekujur jasad
hingga luluh sekeping hati
Puas sudah dalam usaha
ikhtiar sudah tidak bersisa
sudah habis segala upaya
masih berjarak antara kita
Dan titi yang hendak menghubung
tidak pernah dapat disambung...
Labels:
Teddy
Tuesday, March 14, 2006
Sebutir Bintang Di Langit Malam
Sebutir bintang di langit malam
bersinar di matamu
kelam
Sebutir bintang di langit malam
terpancar di wajahmu
suram
Sebutir bintang di langit malam
apa rahsiamu
sayang?
bersinar di matamu
kelam
Sebutir bintang di langit malam
terpancar di wajahmu
suram
Sebutir bintang di langit malam
apa rahsiamu
sayang?
Labels:
Teddy
Sunday, March 12, 2006
Kau Tak Mengerti
Kau tak mengerti
tentang api yang membara
di dalam hatiku
Kau tak mengerti
tentang cemburu yang menyala
menyelubungi dirimu
Kau tak mengerti
tentang rindu yang berkuasa
menakluk jiwaku
tentang api yang membara
di dalam hatiku
Kau tak mengerti
tentang cemburu yang menyala
menyelubungi dirimu
Kau tak mengerti
tentang rindu yang berkuasa
menakluk jiwaku
Labels:
Teddy
Wednesday, March 08, 2006
Sebenarnya
Sebenarnya
masih ada rasa
yang jauh tertanam
menyemai cinta
Sebenarnya
masih ada rindu
yang subur tersiram
membenih sendu
Sebenarnya
masih ada mahu
yang kembang dan mekar
menanti dirimu
masih ada rasa
yang jauh tertanam
menyemai cinta
Sebenarnya
masih ada rindu
yang subur tersiram
membenih sendu
Sebenarnya
masih ada mahu
yang kembang dan mekar
menanti dirimu
Labels:
Teddy
Saturday, February 18, 2006
Titis Air Suci
Titis air suci
bertakung menjadi keji
menghimpun najis dan danur
hingga lewat kubur
Titis air suci
gugur di batas asing
lalu disiram air kencing
hingga berbekas kering
Titis air suci
masih minta berahi
maka biar ia subur
dalam taman yang luhur
mekar lewat kubur
bertakung menjadi keji
menghimpun najis dan danur
hingga lewat kubur
Titis air suci
gugur di batas asing
lalu disiram air kencing
hingga berbekas kering
Titis air suci
masih minta berahi
maka biar ia subur
dalam taman yang luhur
mekar lewat kubur
Pasangan
manakan ada hitam
jika tiada putih
manakan ada gembira
jika tiada sedih
tidak akan ada senyum
melainkan dalam gembira
sedang tangisan boleh menitis
dalam ria mahupun duka
jadi masakan ada gembira
jika tiada sedih
titiskan air mata
kerana ia tanda kasih
jika tiada putih
manakan ada gembira
jika tiada sedih
tidak akan ada senyum
melainkan dalam gembira
sedang tangisan boleh menitis
dalam ria mahupun duka
jadi masakan ada gembira
jika tiada sedih
titiskan air mata
kerana ia tanda kasih
Wednesday, February 15, 2006
Bebas
Sememangnya
sesuatu yang baik
banyak pantang larangnya
dan yang memuja kebebasan
bakal mencipta kesesatan
sesuatu yang baik
banyak pantang larangnya
dan yang memuja kebebasan
bakal mencipta kesesatan
Friday, February 10, 2006
Deria Neraka
Lidah ini
melafazkan dusta
sedang sedikit pun tidak
memuji Yang Maha Esa
Mata ini
merenung syahwat
sedang sedikit pun tidak
mengerling ayat dan kalimat
Telinga ini
mendengar caci nista
sedang sedikit pun tidak
menggetarkan ilmu ke dada
Kaki ini
melencong di kegelapan
sedang sedikit pun tidak
menapak ke rumah Tuhan
Tangan ini
membaitkan puisi
dan sepatah perkataan pun tidak
menyebut nama Ilahi
Lalu pada anugerah Allah ini
apa lagi yang bererti
sedang setiap pancaindera
menempah tempat di neraka?
melafazkan dusta
sedang sedikit pun tidak
memuji Yang Maha Esa
Mata ini
merenung syahwat
sedang sedikit pun tidak
mengerling ayat dan kalimat
Telinga ini
mendengar caci nista
sedang sedikit pun tidak
menggetarkan ilmu ke dada
Kaki ini
melencong di kegelapan
sedang sedikit pun tidak
menapak ke rumah Tuhan
Tangan ini
membaitkan puisi
dan sepatah perkataan pun tidak
menyebut nama Ilahi
Lalu pada anugerah Allah ini
apa lagi yang bererti
sedang setiap pancaindera
menempah tempat di neraka?
Wednesday, February 08, 2006
Kawan Yang Bermusuh
Tidakkah mereka tahu
apa yang Tuhan firmankan
bahawa sehingga ke akhir waktu
Yahudi dan Nasara terhadap kita menjadi seteru?
Bukankah sudah terbukti
dalam sejarah yang berulang kali
sesunggunya mereka tidak akan berhenti
terhadap kita menghamburkan caci maki?
Lalu apa yang dihairankan
di seberang laut terbiaknya kuman
sedang di tanah ini bermaharajalela syaitan
yang bertopengkan kemuliaan insan?
Pelik dengan musuh yang menyerang
seharusnya tidak sepelik
sahabat yang menikam dari belakang
apa yang Tuhan firmankan
bahawa sehingga ke akhir waktu
Yahudi dan Nasara terhadap kita menjadi seteru?
Bukankah sudah terbukti
dalam sejarah yang berulang kali
sesunggunya mereka tidak akan berhenti
terhadap kita menghamburkan caci maki?
Lalu apa yang dihairankan
di seberang laut terbiaknya kuman
sedang di tanah ini bermaharajalela syaitan
yang bertopengkan kemuliaan insan?
Pelik dengan musuh yang menyerang
seharusnya tidak sepelik
sahabat yang menikam dari belakang
Wednesday, January 25, 2006
Tahi
Macam nak cairTahi telinga aku
Mendengarkan bicara
Yang setinggi angkasa
Sedangkan kaki
Terendam dalam tahi
Sunday, January 15, 2006
Pilih Agama
Agama yang kau anuti
ada dua hala
yang satu akhirat
yang satu dunia
yang satu pahala
yang satu dosa
yang satu janda
yang satu dara
yang satu suci
yang satu keji
yang satu setiap hari
yang satu terhad hari
ada dua hala
yang satu akhirat
yang satu dunia
yang satu pahala
yang satu dosa
yang satu janda
yang satu dara
yang satu suci
yang satu keji
yang satu setiap hari
yang satu terhad hari
Saturday, January 14, 2006
Kerana Ayam Tidak Berkokok
Bila aku mahu ke kanan
kau tarik aku ke kiri
dan kalau kumahukan hitam
yang putih pula yang kau beri
Ayam jantan yang ditambat
tidak berkokok sekian lama
lalu subuh berganti senja
hingga padi yang dituai dahulu
masih kering kontang bendangnya
Jadi bila aku mahu ke kanan
aku mahu kau turuti
dan kalau hitam yang aku idamkan
yang sedia putih harus kau cemari
Jangan berdalih lagi
atau akan kubiar pergi
atau kucari ganti
kau tarik aku ke kiri
dan kalau kumahukan hitam
yang putih pula yang kau beri
Ayam jantan yang ditambat
tidak berkokok sekian lama
lalu subuh berganti senja
hingga padi yang dituai dahulu
masih kering kontang bendangnya
Jadi bila aku mahu ke kanan
aku mahu kau turuti
dan kalau hitam yang aku idamkan
yang sedia putih harus kau cemari
Jangan berdalih lagi
atau akan kubiar pergi
atau kucari ganti
Tuesday, January 10, 2006
Jangan Persiakan Aku
Jangan persiakan aku
kerana setiap titis darah
akan menyuling fitrah
Jangan persiakan aku
ketika nyawaku kau genggam
ujub dan takburmu kau pendam
Jangan persiakan aku
setiap anggotaku yang terbuang
sesuap rezekimu berkurang
Jangan persiakan aku
kerana matiku dengan nama Tuhanmu
maka janganlah matimu lebih hina daripadaku
Jangan persiakan aku
kerana kau harus tahu
yang berkorban itu engkau
bukannya aku!
kerana setiap titis darah
akan menyuling fitrah
Jangan persiakan aku
ketika nyawaku kau genggam
ujub dan takburmu kau pendam
Jangan persiakan aku
setiap anggotaku yang terbuang
sesuap rezekimu berkurang
Jangan persiakan aku
kerana matiku dengan nama Tuhanmu
maka janganlah matimu lebih hina daripadaku
Jangan persiakan aku
kerana kau harus tahu
yang berkorban itu engkau
bukannya aku!
Thursday, January 05, 2006
Sunday, January 01, 2006
Hidup Di Dalam Dunia
Hidup di dalam dunia
Penuh dugaan dan cubaan
Dan ujian dari Tuhan
Untuk menguji keimanan
Dari air yang terpancur
Tercipta insan tubuh sekujur
Berusaha menjadi masyhur
Hingga menjadi kufur
Insan lupakan diri
Hilang pegangan hancur peribadi
Umpama haiwan yang tiada bestari
Merosakkan diri sendiri
Penciptanya sudah dilupa
Yakni Tuhan Yang Maha Esa
Sedarlah wahai insan durhaka
Kelak tubuhmu kan binasa
Bertaubatlah sebelum terlambat
Jauhkan diri dari tersesat
Larilah dari dosa dan maksiat
Moga Tuhan memberi rahmat
~Penglipur 1984~
Penuh dugaan dan cubaan
Dan ujian dari Tuhan
Untuk menguji keimanan
Dari air yang terpancur
Tercipta insan tubuh sekujur
Berusaha menjadi masyhur
Hingga menjadi kufur
Insan lupakan diri
Hilang pegangan hancur peribadi
Umpama haiwan yang tiada bestari
Merosakkan diri sendiri
Penciptanya sudah dilupa
Yakni Tuhan Yang Maha Esa
Sedarlah wahai insan durhaka
Kelak tubuhmu kan binasa
Bertaubatlah sebelum terlambat
Jauhkan diri dari tersesat
Larilah dari dosa dan maksiat
Moga Tuhan memberi rahmat
~Penglipur 1984~
Pokok Kayu Lama
Pokok kayu lama
Akan pergi jua
Ia hilang nyawa
Buat selamanya
Pokok kayu lama
Akan pergi jua
Diganti pokok baru
Yang lebih bermutu
Pokok kayu lama
Sudah tiada guna
Elok ditebang saja
Agar boleh dibuat baja
Pokok kayu lama
Tetap akan pergi
Tetap akan diganti
Satu hari nanti
~~Penglipur 1984~
Akan pergi jua
Ia hilang nyawa
Buat selamanya
Pokok kayu lama
Akan pergi jua
Diganti pokok baru
Yang lebih bermutu
Pokok kayu lama
Sudah tiada guna
Elok ditebang saja
Agar boleh dibuat baja
Pokok kayu lama
Tetap akan pergi
Tetap akan diganti
Satu hari nanti
~~Penglipur 1984~
Saturday, December 31, 2005
Berbuka Puasa di ATDI
Pukul tujuh loceng berbunyi
Bilik kosong bertambah sunyi
Ke dewan makan menyanyi-nyanyi
Melihat juadah tak sabar lagi
Bila azan sudah bergema
Riangnya hati tidak terkira
Baca doa pun laju sahaja
Janji perut penuh belaka
Buah kurma siap terhidang
Kuih-muih membuatkan kenyang
Air sejuk dahaga pun hilang
Terkadang bubur dan pengat pisang
Semasa berbuka (ya Allah!) lajunya!
Orang keliling tak peduli tak kira
Air diteguk bertimba-timba
Panjang bernada bila sendawa
Setelah selesai berbuka puasa
Hendak berdiri pun tidak berdaya
Hendak berjalan jangan dikata
Sebiji seperti orang gila.
~Penglipur 1984~
Bilik kosong bertambah sunyi
Ke dewan makan menyanyi-nyanyi
Melihat juadah tak sabar lagi
Bila azan sudah bergema
Riangnya hati tidak terkira
Baca doa pun laju sahaja
Janji perut penuh belaka
Buah kurma siap terhidang
Kuih-muih membuatkan kenyang
Air sejuk dahaga pun hilang
Terkadang bubur dan pengat pisang
Semasa berbuka (ya Allah!) lajunya!
Orang keliling tak peduli tak kira
Air diteguk bertimba-timba
Panjang bernada bila sendawa
Setelah selesai berbuka puasa
Hendak berdiri pun tidak berdaya
Hendak berjalan jangan dikata
Sebiji seperti orang gila.
~Penglipur 1984~
Pantun Orang Jauh
Dari Tampin ke pekan Rasah
Jangan singgah di batu Dua
Lama sudah kita berpisah
Di dalam warkah bertemu jua
Benang dikait berlembar-lembar
Benang sutera idaman hatinya
Salam dihulur bertanya khabar
Semoga sejahtera selalu hendaknya
Berlayar ke hulu ke muara jangan
Tinggal haluan jangan tak jadi
Kisah lama tinggal kenangan
Satu ingatan kenangan abadi
Tumbuh mawar di tanah rata
Menghias indah tepi perigi
Salam rindu di akhir kata
Dipanjang usia bertemu lagi
~Isi Dunia 1986~
Jangan singgah di batu Dua
Lama sudah kita berpisah
Di dalam warkah bertemu jua
Benang dikait berlembar-lembar
Benang sutera idaman hatinya
Salam dihulur bertanya khabar
Semoga sejahtera selalu hendaknya
Berlayar ke hulu ke muara jangan
Tinggal haluan jangan tak jadi
Kisah lama tinggal kenangan
Satu ingatan kenangan abadi
Tumbuh mawar di tanah rata
Menghias indah tepi perigi
Salam rindu di akhir kata
Dipanjang usia bertemu lagi
~Isi Dunia 1986~
Pantun
Itik berenang di dalam paya
Kain dijemur di atas papan
Jangan dibangga kehidupan kaya
Akhirnya jasad harus dikapan
Terang bulan mengait renda
Orang berlagu sehingga pagi
Jangan pentingkan harta dan benda
Iman itu lebih baik lagi
Ke hulu sudah ke hilir sudah
Buah ketapang masak setangkai
Kutegur sudah kusenyum sudah
Diharap pertalian tidak terungkai
Sayang isteri ditinggalkan pergi
Sayang anak ditangan-tangankan
Jangan dikenang orang yang pergi
Kelak meracun diri dan badan
~Penglipur 1984~
Kain dijemur di atas papan
Jangan dibangga kehidupan kaya
Akhirnya jasad harus dikapan
Terang bulan mengait renda
Orang berlagu sehingga pagi
Jangan pentingkan harta dan benda
Iman itu lebih baik lagi
Ke hulu sudah ke hilir sudah
Buah ketapang masak setangkai
Kutegur sudah kusenyum sudah
Diharap pertalian tidak terungkai
Sayang isteri ditinggalkan pergi
Sayang anak ditangan-tangankan
Jangan dikenang orang yang pergi
Kelak meracun diri dan badan
~Penglipur 1984~
Ketenangan Hati
Sudah berbatu aku berlari
untuk mencari ketenangan hati
kutempuh gunung bukit kudaki
lautan dalam telah kurenangi
tapi sayang
hati tidak menjadi tenang
apakah salah apakah silap
hati gelap sentiasa malap
adakah kerana rindu memendap
atau hati sememangnya risau
namun jawapan masih melilau
fikiran buntu bertambah kacau
hati yang tenang tidak menjelma
cetusan hati cebisan rasa
oh Tuhan katakanlah mengapa
apa sebabnya
adakah kerana
dosaku lebih banyak daripada pahala?
Oh jauhkanlah segala bahaya......
aku tetap berlari lagi.... lagi.... lagi.....
~Pengliur 1984~
untuk mencari ketenangan hati
kutempuh gunung bukit kudaki
lautan dalam telah kurenangi
tapi sayang
hati tidak menjadi tenang
apakah salah apakah silap
hati gelap sentiasa malap
adakah kerana rindu memendap
atau hati sememangnya risau
namun jawapan masih melilau
fikiran buntu bertambah kacau
hati yang tenang tidak menjelma
cetusan hati cebisan rasa
oh Tuhan katakanlah mengapa
apa sebabnya
adakah kerana
dosaku lebih banyak daripada pahala?
Oh jauhkanlah segala bahaya......
aku tetap berlari lagi.... lagi.... lagi.....
~Pengliur 1984~
Friday, December 30, 2005
Datang Lagi Waktu Ini
Datang lagi waktu ini
pabila tahun melangkah pergi
dan zaman bertukar ganti
namun noda dan dosa masih di sini
Datang lagi waktu ini
detik yang bakal menukar hari
pemuda bertenggek bersama pemudi
dan antara mereka iblis berdiri
Datang lagi waktu ini
yang sebelumnya dilanda tsunami
sungguh pun masih ada anak saudara syaitan
yang menganggap ia bukan amaran Tuhan
Datang lagi waktu ini
saban tahun semakin berani
kulihat pakaian semakin kurang
kulihat mabuk semakin panjang
Datang lagikah waktu ini
atau sempatkah kusaksikan lagi
pengajarankah yang dihidang padaku
atau bakal kehidupan di alam baru?
pabila tahun melangkah pergi
dan zaman bertukar ganti
namun noda dan dosa masih di sini
Datang lagi waktu ini
detik yang bakal menukar hari
pemuda bertenggek bersama pemudi
dan antara mereka iblis berdiri
Datang lagi waktu ini
yang sebelumnya dilanda tsunami
sungguh pun masih ada anak saudara syaitan
yang menganggap ia bukan amaran Tuhan
Datang lagi waktu ini
saban tahun semakin berani
kulihat pakaian semakin kurang
kulihat mabuk semakin panjang
Datang lagikah waktu ini
atau sempatkah kusaksikan lagi
pengajarankah yang dihidang padaku
atau bakal kehidupan di alam baru?
Monday, December 26, 2005
Siapakah Mereka Ini?
siapakah mereka ini?
bersila meriba kitab suci
dan melafaz ayat mengaji
sambil mata sesekali menjeling ke mari
siapakah mereka ini?
yang menyapu air mata
atau yang teresak-esak hiba
dan juga yang sinis dalam senyumannya
siapakah mereka ini?
yang berbisik di telingaku
mengucapkan kata yang tidak berlagu
sambil bersungguh-sungguh menyeru aku
siapakah kamu?
yang hadir tiba-tiba
begitu bengis air muka
tiada adab untuk menyapa
lalu mengikutmu aku dipaksa
hentikan kesakitan ini
sebegitu pedih sekali
berikan aku mati!
agar kesakitan ini berhenti!
bersila meriba kitab suci
dan melafaz ayat mengaji
sambil mata sesekali menjeling ke mari
siapakah mereka ini?
yang menyapu air mata
atau yang teresak-esak hiba
dan juga yang sinis dalam senyumannya
siapakah mereka ini?
yang berbisik di telingaku
mengucapkan kata yang tidak berlagu
sambil bersungguh-sungguh menyeru aku
siapakah kamu?
yang hadir tiba-tiba
begitu bengis air muka
tiada adab untuk menyapa
lalu mengikutmu aku dipaksa
hentikan kesakitan ini
sebegitu pedih sekali
berikan aku mati!
agar kesakitan ini berhenti!
Saturday, December 24, 2005
Walimatulurus

Yang ditunggu dah pun tiba
Kedua mempelai kacak dan jelita
Merakam riwayat di hari bahagia
Menghikayatkan ceria abadi selamanya
Manis sungguh kedua pengantin
Duduk tersenyum di pelamin
Moga kekal ke akhir hayat
Moga damai dunia akhirat
Bersanding sudah
Menepung tawar pun sudah
Makan saja yang belum lagi
Lalu jadah terhidang sudah
Mempelai dijemput untuk santapan tengah hari
Hari ini makan di hidang
Hari esok masak sendiri
Walau sibuk pagi dan petang
Jangan lupa balik masak untuk suami
Bila suami duduk di pejabat
Cari duit menambah rezeki
Kalau boleh pulanglah cepat
Makan malam bersama isteri
Wednesday, November 30, 2005
Duhai...
duhai waktu
yang mempertemukan
dan yang memisahkan
yang memulakan
dan mengakhirkan
duhai malam
yang melenakan
lalu menghiaskan mimpi
atau igauan yang ngeri
duhai angin
yang membelai dan menyapa
lalu membawa berita
dalam gembira dan duka
yang mempertemukan
dan yang memisahkan
yang memulakan
dan mengakhirkan
duhai malam
yang melenakan
lalu menghiaskan mimpi
atau igauan yang ngeri
duhai angin
yang membelai dan menyapa
lalu membawa berita
dalam gembira dan duka
Monday, November 28, 2005
Petanda atau Ujian?
Besar benar halangan kini
entah apa yang terjadi
petandakah yang diberi
ataukah ujian yang menguji?
Masih bisa kutahan
semua ledakan perasaan
dan masih bisa kuhalang
air jernih yang bergenang
Berikan kekuatan ini
untuk aku berdiri
memilih antara kanan dan kiri
hanya satu - itu pasti!
Petandakah yang diberi
ataukah ujian yang menguji
akan kutahu dengan pasti
suatu hari nanti
entah apa yang terjadi
petandakah yang diberi
ataukah ujian yang menguji?
Masih bisa kutahan
semua ledakan perasaan
dan masih bisa kuhalang
air jernih yang bergenang
Berikan kekuatan ini
untuk aku berdiri
memilih antara kanan dan kiri
hanya satu - itu pasti!
Petandakah yang diberi
ataukah ujian yang menguji
akan kutahu dengan pasti
suatu hari nanti
Friday, October 14, 2005
Sepuluh Pertama Ramdhan
Semakin terang sinar rembulan
berlalu sepuluh pertama Ramadhan
sudah berlalukah keberkatan
kepada rahmat memberi laluan?
Sudahkah amalan mempelawa
menjemput al-Qadar bertandang tiba
atau sekadar merenung angkasa
mengira bintang di buana?
Sudahkah lengkap dihitung
zakat diri yang diuntung
sedang fakir masih termenung
bermimpikan aidil fitri yang murung?
Ada yang masih mengais di jalanan
dan menghirup air di perparitan
sedang kami berlazatan
dengan iftar yang dikurniakan
Ampunilah kami Ya Rahman Ya Rahim
kerana masih gelap di perjalanan
untuk sampai ke hujung jalan.
berlalu sepuluh pertama Ramadhan
sudah berlalukah keberkatan
kepada rahmat memberi laluan?
Sudahkah amalan mempelawa
menjemput al-Qadar bertandang tiba
atau sekadar merenung angkasa
mengira bintang di buana?
Sudahkah lengkap dihitung
zakat diri yang diuntung
sedang fakir masih termenung
bermimpikan aidil fitri yang murung?
Ada yang masih mengais di jalanan
dan menghirup air di perparitan
sedang kami berlazatan
dengan iftar yang dikurniakan
Ampunilah kami Ya Rahman Ya Rahim
kerana masih gelap di perjalanan
untuk sampai ke hujung jalan.
Thursday, October 06, 2005
Siapa
Sudah dibuka luas pintu syurga
dan ditutup rapat pintu neraka
lalu iblis tidak lagi beraja
dan syaitan tidak lagi merdeka
dibelenggu rantai yang membara
Lantas siapakah gerangan
yang kembali dengan kebiadapan
lalu membuka lebar pintu neraka
hingga terkunci ketat pintu syurga
Sujudkan kepala ini ke bumi
sentuhkan hidung ke telapak kaki
bekas-bekas dosa bertaburan
jangan sekali-kali dikutip kembali....
dan ditutup rapat pintu neraka
lalu iblis tidak lagi beraja
dan syaitan tidak lagi merdeka
dibelenggu rantai yang membara
Lantas siapakah gerangan
yang kembali dengan kebiadapan
lalu membuka lebar pintu neraka
hingga terkunci ketat pintu syurga
Sujudkan kepala ini ke bumi
sentuhkan hidung ke telapak kaki
bekas-bekas dosa bertaburan
jangan sekali-kali dikutip kembali....
Perjuangan Yang Berulang
Sungguh tidakkan berakhir
Perjuangan yang semakin hampir
Berperisaikan jariah dan zikir
Sukarkah mengamalkannya
Sekadar berdiri mengadap Yang Esa
Di samping menahan lapar dan dahaga?
Tidak adakah kesal di hati
Saban tahun dalam perjuangan ini
Tidak pernah menang walau sekali?
Apakah kepuasan menjadi wajar
Menyangka kemenangan sudah tegar
Sedang usia masih menjalar?
Perjuangan ini tetap akan berulang
Selagi roh dan jasad belum pulang
Ke pangkuan Yang Maha Penyayang
Bukan kita yang menentukan peluang
Untuk menempuh Ramadhan yang mendatang
Dan suatu hari nanti kita pasti akan pulang
Sama ada dalam menang atau kecundang
Perjuangan yang semakin hampir
Berperisaikan jariah dan zikir
Sukarkah mengamalkannya
Sekadar berdiri mengadap Yang Esa
Di samping menahan lapar dan dahaga?
Tidak adakah kesal di hati
Saban tahun dalam perjuangan ini
Tidak pernah menang walau sekali?
Apakah kepuasan menjadi wajar
Menyangka kemenangan sudah tegar
Sedang usia masih menjalar?
Perjuangan ini tetap akan berulang
Selagi roh dan jasad belum pulang
Ke pangkuan Yang Maha Penyayang
Bukan kita yang menentukan peluang
Untuk menempuh Ramadhan yang mendatang
Dan suatu hari nanti kita pasti akan pulang
Sama ada dalam menang atau kecundang
Ramadhan Telah Kembali
Titiskan air mata
Sebagai tanda kesyukuran
Kerana usia masih bersisa
Tebus segunung dosa
Sedang dirantai iblis dan syaitan
Yang tinggal nafsu semata
Ramadhan telah kembali
Dengan ganjaran seribu bulan
Jangan persiakan ia lagi
Sebagai tanda kesyukuran
Kerana usia masih bersisa
Tebus segunung dosa
Sedang dirantai iblis dan syaitan
Yang tinggal nafsu semata
Ramadhan telah kembali
Dengan ganjaran seribu bulan
Jangan persiakan ia lagi
Monday, October 03, 2005
Lautan Cinta Kita
Maafkan aku
kerana tidak hebat
mengucup bibirmu
Sungguh aku kepingin
bersamamu sekali lagi
mendakap malam dingin
Mentari masih lena
sedang kita asyik hanyut
dibuai cinta
Kau dan aku
di dasar lautan ini
masih lemas lesu
kerana tidak hebat
mengucup bibirmu
Sungguh aku kepingin
bersamamu sekali lagi
mendakap malam dingin
Mentari masih lena
sedang kita asyik hanyut
dibuai cinta
Kau dan aku
di dasar lautan ini
masih lemas lesu
Labels:
Teddy
Thursday, September 29, 2005
Asyik
Hangat genggaman tanganmu
meresap di telapak tanganku
lalu mengalir di darah merah
dan di hatiku mencipta resah
Rebahkan tubuhmu di dadaku
kerana ingin kudakap dirimu
dalam rangkulan kasih dan sayang
dalam cumbuan pagi dan petang
Pejamkan rapat matamu
kerana ingin kukucup bibirmu
biar kurasa manis cintamu
biar tersiram nikmat kasihmu
meresap di telapak tanganku
lalu mengalir di darah merah
dan di hatiku mencipta resah
Rebahkan tubuhmu di dadaku
kerana ingin kudakap dirimu
dalam rangkulan kasih dan sayang
dalam cumbuan pagi dan petang
Pejamkan rapat matamu
kerana ingin kukucup bibirmu
biar kurasa manis cintamu
biar tersiram nikmat kasihmu
Labels:
Teddy
Tuesday, September 20, 2005
Pergi
Jangan dipinta keizinanku
andai kau ingin beredar
kerana takkan kuberikan padamu
Langkahkan kakimu pergi
sebelum matamu memandang
titis air yang mengalir di pipi ini
Andai bagimu menjadi beban
menggalas sepanjang perjalanmu pergi
maka hatiku itu pulangkan
Namun andai ia menjadi teman
lantas menghiburmu di kala duka
maka hatiku itu simpankan
Mungkin suatu hari nanti
hakikat yang masih impian
zahir menjadi kenyataan
Namun andai ia tinggal mimpi
selimutkanlah aku dengan igauan
hingga jasadku dicandikan nesan
andai kau ingin beredar
kerana takkan kuberikan padamu
Langkahkan kakimu pergi
sebelum matamu memandang
titis air yang mengalir di pipi ini
Andai bagimu menjadi beban
menggalas sepanjang perjalanmu pergi
maka hatiku itu pulangkan
Namun andai ia menjadi teman
lantas menghiburmu di kala duka
maka hatiku itu simpankan
Mungkin suatu hari nanti
hakikat yang masih impian
zahir menjadi kenyataan
Namun andai ia tinggal mimpi
selimutkanlah aku dengan igauan
hingga jasadku dicandikan nesan
Thursday, September 15, 2005
Malam
Mentari sudah pergi
namun bahang panasnya
masih di sini
Berkerdipan neon merata-rata
namun cuaca malam
tetap gelita
Kegelapan menyelimut alam
namun dalam setiap siang
tetap mendambakan malam
namun bahang panasnya
masih di sini
Berkerdipan neon merata-rata
namun cuaca malam
tetap gelita
Kegelapan menyelimut alam
namun dalam setiap siang
tetap mendambakan malam
Sunday, September 11, 2005
Yang Kusimpan...
Ada rasa
Yang jauh lebih baik
Jika tidak diluahkan
Ada cinta
Yang jauh lebih indah
Jika terus disimpan
Ada sedih
Yang jauh lebih bernilai
Jika tidak dizahirkan
Dan aku rela
Memendam derita dan azab
Demi mengharap kau tersenyum
Yang jauh lebih baik
Jika tidak diluahkan
Ada cinta
Yang jauh lebih indah
Jika terus disimpan
Ada sedih
Yang jauh lebih bernilai
Jika tidak dizahirkan
Dan aku rela
Memendam derita dan azab
Demi mengharap kau tersenyum
Labels:
Teddy
Tuesday, September 06, 2005
Hujan Di Lautan Masih Menangis
Air matamu jangan dititiskan
kesal hatimu jangan berterusan
belum terlihatkah di hati dan perasaan
bagiku dirmu umpama berlian?
Tangisan hujan di lautan ini
untuk teman yang dicintai
untuk sahabat yang tiada ganti
dalam seribu hanya kau di hati
Maka air matamu jangan dititiskan
kesal hatimu jangan berterusan
kuturut mahumu dengan keperitan
maka berjanjilah
air matamu dititiskan jangan…
kesal hatimu jangan berterusan
belum terlihatkah di hati dan perasaan
bagiku dirmu umpama berlian?
Tangisan hujan di lautan ini
untuk teman yang dicintai
untuk sahabat yang tiada ganti
dalam seribu hanya kau di hati
Maka air matamu jangan dititiskan
kesal hatimu jangan berterusan
kuturut mahumu dengan keperitan
maka berjanjilah
air matamu dititiskan jangan…
Labels:
Teddy
Friday, September 02, 2005
Tangisan Hujan di Lautan
Semaikan benih kasih dan cinta
di tanah gersang yang penuh sengketa
lalu dibajakan dengan mesra
lalu dipagari dengan setia
Lautan ini pernah bertaufan
tiada sunyi dari ujian
dan setiap bahtera yang dilayarkan
gelombang pasti menjadi teman
Bukankah pada setiap yang terjadi
telah tersurat dari azali
yang patah tumbuh yang hilang berganti
dan setiap yang datang pasti pergi?

Air matamu jangan dititiskan
kesal hatimu jangan berterusan
belum terlihatkah di hati dan perasaan
bagiku dirmu umpama berlian?
Tergamakkah aku mengesat pipimu
dengan tanganku yang kotor berdebu
lalu memalit jutaan keji
di sinar wajahmu yang penuh suci?
Mahligai permata bukan hakiki
sekadar lamunan di alam mimpi
sedang dirimu laksana taman
yang padat kusemai benih harapan
Hujan menangis di lautan dalam
sekadar membasahkan bahtera yang suram
tidak mungkin menyebabkan karam
sekujur jasad yang sedia tenggelam

Kembalikanlah kasih dan cintamu
yang kau simpan dalam hatimu
sanggupkah aku kau biarkan sengsara
menggapai tangan di tengah samudera?
Jika ada bintang menyinar
kepadaku berikan setitis sinar
dan hikayat bahtera, lautan dan hujan
untuk kau dan aku menjadi pedoman
Lautan gelora yang mendakap bahtera
masih setia bertemankan cinta
maka pulanglah ke dermaga hati ini
wahai teman yang kukasihi……
di tanah gersang yang penuh sengketa
lalu dibajakan dengan mesra
lalu dipagari dengan setia
Lautan ini pernah bertaufan
tiada sunyi dari ujian
dan setiap bahtera yang dilayarkan
gelombang pasti menjadi teman
Bukankah pada setiap yang terjadi
telah tersurat dari azali
yang patah tumbuh yang hilang berganti
dan setiap yang datang pasti pergi?

Air matamu jangan dititiskan
kesal hatimu jangan berterusan
belum terlihatkah di hati dan perasaan
bagiku dirmu umpama berlian?
Tergamakkah aku mengesat pipimu
dengan tanganku yang kotor berdebu
lalu memalit jutaan keji
di sinar wajahmu yang penuh suci?
Mahligai permata bukan hakiki
sekadar lamunan di alam mimpi
sedang dirimu laksana taman
yang padat kusemai benih harapan
Hujan menangis di lautan dalam
sekadar membasahkan bahtera yang suram
tidak mungkin menyebabkan karam
sekujur jasad yang sedia tenggelam

Kembalikanlah kasih dan cintamu
yang kau simpan dalam hatimu
sanggupkah aku kau biarkan sengsara
menggapai tangan di tengah samudera?
Jika ada bintang menyinar
kepadaku berikan setitis sinar
dan hikayat bahtera, lautan dan hujan
untuk kau dan aku menjadi pedoman
Lautan gelora yang mendakap bahtera
masih setia bertemankan cinta
maka pulanglah ke dermaga hati ini
wahai teman yang kukasihi……
Labels:
Teddy
Thursday, August 25, 2005
Selamat Datang Cinta

Selamat datang wahai cinta
ke alam khayal sang pujangga
yang setiap langkahnya ada kisah
untuk dihikayat menjadi warkah
Selamat bersama wahai cinta
mencari erti di alam nyata
meneroka fantasi di dalam mimpi
mencipta hakikat di alam realiti
Selamat datang wahai cinta
sebarkan sayang di seluruh buana
semoga insan mendakap kasih
umpama bidara dilurut selasih

Friday, August 19, 2005
Walaupun Masih Di Dunia
Walaupun aku masih di dunia
aku ingin sekali melihat syurga
yang padanya ada limpahan bahagia
yang padanya tiada secalit nestapa
Walaupun aku masih di dunia
seakan sudah kurasai neraka
yang padanya penuh azab siksa
yang padanya penuh duka sengsara
Sudah lenyapkah timbang rasa
ditelan tamak dan haloba
dan sudah pudarkah kasih cinta
yang menyelimuti teruna dan dara?
Betapa rahmat telah pupus
dibakar serakah yang rakus
lalu terdampar setiap jiwa
terperangkap di jurang neraka
Dan walaupun aku masih di dunia
keindahan ini bukan syurga
kecelakaan ini bukan neraka
sedang setiap detik yang pergi
membawa aku ke liang pusara...
aku ingin sekali melihat syurga
yang padanya ada limpahan bahagia
yang padanya tiada secalit nestapa
Walaupun aku masih di dunia
seakan sudah kurasai neraka
yang padanya penuh azab siksa
yang padanya penuh duka sengsara
Sudah lenyapkah timbang rasa
ditelan tamak dan haloba
dan sudah pudarkah kasih cinta
yang menyelimuti teruna dan dara?
Betapa rahmat telah pupus
dibakar serakah yang rakus
lalu terdampar setiap jiwa
terperangkap di jurang neraka
Dan walaupun aku masih di dunia
keindahan ini bukan syurga
kecelakaan ini bukan neraka
sedang setiap detik yang pergi
membawa aku ke liang pusara...
Friday, August 12, 2005
Bunga Itu
Harum kelopakmu
Membenihkan rindu
Di kalbu
Tegap tangkainya
menjunjung mahkota
yang berduri noda
luka yang terpahat
terus diingat
terus terlihat
Membenihkan rindu
Di kalbu
Tegap tangkainya
menjunjung mahkota
yang berduri noda
luka yang terpahat
terus diingat
terus terlihat
Sunday, August 07, 2005
Haruskah Diampuni?
Haruskah diampuni
sedang hati sudah berdarah
berkudis dan bernanah?
Ringan tangan ini
mujur lagi nafsu mengalah
dan akal memerintah
Nyaris lagi
hendak mencampakkan amanah
ke lubuk yang berdarah
Ya Ilahi Robbi
berikan hidayah
kurniakan hikmah
sedang hati sudah berdarah
berkudis dan bernanah?
Ringan tangan ini
mujur lagi nafsu mengalah
dan akal memerintah
Nyaris lagi
hendak mencampakkan amanah
ke lubuk yang berdarah
Ya Ilahi Robbi
berikan hidayah
kurniakan hikmah
Cabul
Kata-kata
Tidak bertempat
Mulutnya cabul
Anak-anak
Dibiarkan melarat
Itu dusta
Akal singkat
Bicara nafsu
Itu derhaka
Tidak bertempat
Mulutnya cabul
Anak-anak
Dibiarkan melarat
Itu dusta
Akal singkat
Bicara nafsu
Itu derhaka
Saturday, August 06, 2005
Kenapa Tak Dibicarakan?
Bara api yang digenggam
akhirnya terlepas lalu tenggelam
di dasar lubuk yang paling dalam
menggelapkan apa yang sedia malam
Lalu haruskah dibicarakan
tentang apa yang kau makan
sedang aku yang kelaparan
sudah kenyang dengan minuman?
Atau molekkah ditanya
tentang jujur dan dusta
sedang setiap kali berbicara
hati dan lidah menyemai nista
Halaukan merpati itu
racuni makanannya
bersihkan kawasan ini
Semaikan pujian
dibajakan ikhlas
dituaikan nilai.
akhirnya terlepas lalu tenggelam
di dasar lubuk yang paling dalam
menggelapkan apa yang sedia malam
Lalu haruskah dibicarakan
tentang apa yang kau makan
sedang aku yang kelaparan
sudah kenyang dengan minuman?
Atau molekkah ditanya
tentang jujur dan dusta
sedang setiap kali berbicara
hati dan lidah menyemai nista
Halaukan merpati itu
racuni makanannya
bersihkan kawasan ini
Semaikan pujian
dibajakan ikhlas
dituaikan nilai.
Perasan
Apa sebenarnya yang mereka mahu?
Bila diri dihias sebegitu
sedang pabila mata lelaki bertamu
ke atas kulit terdedah antara bukaan baju
mereka seakan mencemuh dan ingin berlalu
justeru senyuman menjadi seteru
dan yang ikhlas dianggap tipu
Lalu apa sebenarnya yang mereka mahu?
Memanggil perhatian yang tidakkan datang
atau sekadar berlagak jalang?
Terkadang ada yang perasan
bahawa pada setiap senyuman
kononnya ada kejahatan…
Bila diri dihias sebegitu
sedang pabila mata lelaki bertamu
ke atas kulit terdedah antara bukaan baju
mereka seakan mencemuh dan ingin berlalu
justeru senyuman menjadi seteru
dan yang ikhlas dianggap tipu
Lalu apa sebenarnya yang mereka mahu?
Memanggil perhatian yang tidakkan datang
atau sekadar berlagak jalang?
Terkadang ada yang perasan
bahawa pada setiap senyuman
kononnya ada kejahatan…
Saturday, July 23, 2005
Keliru
Siapakah yang keliru
melayan cinta dengan cemburu
melayan kasih dengan rindu
sedangkan diri ini seteru?
Siapakah diri ini
antara sayang dan benci
antara puji dan caci
di mana aku berdiri?
Siapakah kau pula
sahabat yang melemparkan cinta
atau kekasih yang menembok rasa
sedang dengan dirinya
aku seakan tak berbeda?
Siapakah yang keliru
sudah kudapat jawapan itu
setelah duri dan onak menyiat dagingku
setelah hancur luluh cinta dan rindu
sudah kudapat jawapan itu
melayan cinta dengan cemburu
melayan kasih dengan rindu
sedangkan diri ini seteru?
Siapakah diri ini
antara sayang dan benci
antara puji dan caci
di mana aku berdiri?
Siapakah kau pula
sahabat yang melemparkan cinta
atau kekasih yang menembok rasa
sedang dengan dirinya
aku seakan tak berbeda?
Siapakah yang keliru
sudah kudapat jawapan itu
setelah duri dan onak menyiat dagingku
setelah hancur luluh cinta dan rindu
sudah kudapat jawapan itu
Labels:
Teddy
Thursday, July 21, 2005
Ada Bara Yang Membakar
Ada bara yang membakar
bila mengetahui dalam hatimu
masih ada cinta kepada dia
Bara ini memijarkan
seakan dapat kurasakan
apinya menjilat seluruh badan
Api yang menjilat emosi
tertanya-tanya kenapa ada benci
bila kau gagal kumiliki
Tidakkah kau tahu
betapa aku cemburu
kerana padanya kau cinta dan rindu
Tapi aku sedar pada hakikat
kau takkan dapat kupikat
maka pergilah kau kepadanya
dan memberi kau bahagia
yang itu pasti kuteruskan jua
Lambaian tangan ini
buat terakhir kali
seikhlas hati
tulus dan suci
melihatmu pergi
bila mengetahui dalam hatimu
masih ada cinta kepada dia
Bara ini memijarkan
seakan dapat kurasakan
apinya menjilat seluruh badan
Api yang menjilat emosi
tertanya-tanya kenapa ada benci
bila kau gagal kumiliki
Tidakkah kau tahu
betapa aku cemburu
kerana padanya kau cinta dan rindu
Tapi aku sedar pada hakikat
kau takkan dapat kupikat
maka pergilah kau kepadanya
dan memberi kau bahagia
yang itu pasti kuteruskan jua
Lambaian tangan ini
buat terakhir kali
seikhlas hati
tulus dan suci
melihatmu pergi
Saturday, July 16, 2005
Bertepuk Sebelah Tangan
Sudah lama memendam rindu
sekian lama tidak ketemu
ada rasa yang pernah bertamu
hingga kini menjadi tugu
Seakan mendesak perasaan di kalbu
hendak mendakap erat dirimu
hendak mencium mesra rambutmu
hendak membelai lembut kulitmu
Sering tertanya di dalam jiwa
samakah rasa antara kita
samakah rindu saling menyapa
samakah kasih saling berdua
Atau hanya sekadar sendirian
melemparkan cinta tanpa balasan
sekadar mengemis di tepi jalanan
mengharap cinta beradu di tangan
Barangkali tasik yang bertakung ini
sekadar menadah kebodohan sendiri
dan kolam yang membasahkan hati
sekadar lumpur yang menjadi nadi...
sekian lama tidak ketemu
ada rasa yang pernah bertamu
hingga kini menjadi tugu
Seakan mendesak perasaan di kalbu
hendak mendakap erat dirimu
hendak mencium mesra rambutmu
hendak membelai lembut kulitmu
Sering tertanya di dalam jiwa
samakah rasa antara kita
samakah rindu saling menyapa
samakah kasih saling berdua
Atau hanya sekadar sendirian
melemparkan cinta tanpa balasan
sekadar mengemis di tepi jalanan
mengharap cinta beradu di tangan
Barangkali tasik yang bertakung ini
sekadar menadah kebodohan sendiri
dan kolam yang membasahkan hati
sekadar lumpur yang menjadi nadi...
Labels:
Teddy
Aku Tak Percaya
Aku tak percaya
pabila orang berkata
kau hanya berdusta
Aku tak percaya
bahawa kau sekadar memperguna
mengambil kesempatan dari cinta
Aku tak percaya
yang aku kau perguna
sebagai teman sunyi sekadar sementara
Namun aku lebih tak percaya
kalau keluhuran yang kubaja
akan kaubalas dengan tuba
Aku tak percaya
yang kau akan sanggup mempersenda
apa yang kurasa
pabila orang berkata
kau hanya berdusta
Aku tak percaya
bahawa kau sekadar memperguna
mengambil kesempatan dari cinta
Aku tak percaya
yang aku kau perguna
sebagai teman sunyi sekadar sementara
Namun aku lebih tak percaya
kalau keluhuran yang kubaja
akan kaubalas dengan tuba
Aku tak percaya
yang kau akan sanggup mempersenda
apa yang kurasa
Thursday, July 14, 2005
Yang Pertama
Yang pertama
masih ada
dalam jiwa
Yang pertama
belum hilang
membelai sayang
Yang pertama
tiada luahan
pada rasa
Yang pertama
masih pijar
api membara
masih ada
dalam jiwa
Yang pertama
belum hilang
membelai sayang
Yang pertama
tiada luahan
pada rasa
Yang pertama
masih pijar
api membara
Rasa
Ada hirisan di keranda memori
yang nyaris membongkah pusara hati
hingga rasa yang berabad bersemadi
seakan bangkit dari mati
Getar jiwa yang hadir dulu
yang telah mati di halaman waktu
yang dalam diam mengukir rindu
yang membenih rasa di dalam bisu
Ada bimbang yang masih abadi
masih terpahat di dinding hati
kini berperang di dunia emosi
saling berdebat mencari hakiki
Masih mekarkah kelopak cinta
yang tanpa sedar sering dibaja
lalu subur menghias rasa
hingga menyendatkan ruang jiwa?
Apa yang disangkakan mati
rupa-rupanya masih bersemi
sudah butakah mata hati
sudah tulikah kewarasan diri?
Mana mungkin rasa yang pertama
bisa goyah ditelan masa
sedang masih pijar apinya
sedang masih membakar baranya
yang nyaris membongkah pusara hati
hingga rasa yang berabad bersemadi
seakan bangkit dari mati
Getar jiwa yang hadir dulu
yang telah mati di halaman waktu
yang dalam diam mengukir rindu
yang membenih rasa di dalam bisu
Ada bimbang yang masih abadi
masih terpahat di dinding hati
kini berperang di dunia emosi
saling berdebat mencari hakiki
Masih mekarkah kelopak cinta
yang tanpa sedar sering dibaja
lalu subur menghias rasa
hingga menyendatkan ruang jiwa?
Apa yang disangkakan mati
rupa-rupanya masih bersemi
sudah butakah mata hati
sudah tulikah kewarasan diri?
Mana mungkin rasa yang pertama
bisa goyah ditelan masa
sedang masih pijar apinya
sedang masih membakar baranya
Labels:
Teddy
Wednesday, July 13, 2005
Izinkan Aku Cium
Izinkan aku mencium pipimu
tanda kasih bersulam rindu
izinkan aku mengucup bibirmu
tanda cinta bersulam nafsu
Izinkan aku mencium lehermu
tanda berahi menjemput restu
izinkan aku merangkul tubuhmu
tanda rela menjadi satu
Izinkan aku membaringkan tubuhmu
bersebelahan dengan jasadku
izinkan kehangatan saling bertemu
dalam sentuhan berselimut cumbu
Tika ini resam berpaling
keizinan tak lagi penting
hilang sudah kewarasan akal
hanya nikmat zahir yang tinggal
saling berlumba menggapai khayal
sebelum nikmat berganti sesal
Dan semua ini berlaku
dari keizinan mencium pipimu
tanda kasih bersulam rindu
izinkan aku mengucup bibirmu
tanda cinta bersulam nafsu
Izinkan aku mencium lehermu
tanda berahi menjemput restu
izinkan aku merangkul tubuhmu
tanda rela menjadi satu
Izinkan aku membaringkan tubuhmu
bersebelahan dengan jasadku
izinkan kehangatan saling bertemu
dalam sentuhan berselimut cumbu
Tika ini resam berpaling
keizinan tak lagi penting
hilang sudah kewarasan akal
hanya nikmat zahir yang tinggal
saling berlumba menggapai khayal
sebelum nikmat berganti sesal
Dan semua ini berlaku
dari keizinan mencium pipimu
Monday, July 11, 2005
Antara Gadis Jelita
Antara dua gadis jelita
sama menepati citarasa
sama melayan penuh mesra
sama mencurah kasih dan cinta
Antara dua gadis ayu
sama memikat setiap satu
sama memberahikan setiap nafsu
sama mengghairahkan setiap perilaku
Antara kau dan dia
siapakah lelaki yang dicinta
apakah jejaka yang sama
atau kalian saling berahsia?
Antara gadis berdua
cinta berbalas sesama mereka
berahi dan ghairah dikongsi bersama
mandi, tidur malah bersenggama
Lelaki tiada di hati mereka
cinta disemai di pinggir pusara
kasih dicurah di jurang neraka
zuriat ditanam di gelanggang siksa
Sayang seribu kali sayang
wajahnya cantik nafsunya jalang
berinsan di rupa berhaiwan di hati
menjilat cinta mengubur suci
sama menepati citarasa
sama melayan penuh mesra
sama mencurah kasih dan cinta
Antara dua gadis ayu
sama memikat setiap satu
sama memberahikan setiap nafsu
sama mengghairahkan setiap perilaku
Antara kau dan dia
siapakah lelaki yang dicinta
apakah jejaka yang sama
atau kalian saling berahsia?
Antara gadis berdua
cinta berbalas sesama mereka
berahi dan ghairah dikongsi bersama
mandi, tidur malah bersenggama
Lelaki tiada di hati mereka
cinta disemai di pinggir pusara
kasih dicurah di jurang neraka
zuriat ditanam di gelanggang siksa
Sayang seribu kali sayang
wajahnya cantik nafsunya jalang
berinsan di rupa berhaiwan di hati
menjilat cinta mengubur suci
Thursday, July 07, 2005
Puteri Siang dan Malam
Berbisik nasihat menyuruh tenang
tatkala mentari memancarkan siang
meredupkan mimpi setiap kali dipandang
mendamaikan hati setiap kali bertandang
Umpama lorong yang semakin sepi
menyambut laluan sang puteri
permata hatikah yang telah pergi
atau sekadar permainan mimpi?
Sang puterikah yang menjunjung mahkota
menjadi rebutan setiap raja
menjadi sebutan setiap perwira
menjadi umpatan gadis-gadis di dunia?
Dan yang datang menghunus pedang
diakah perwira yang dinantikan menjelang
atau diakah sebenarnya si petualang
sedang dialah yang sentiasa menang?
Sembunyikan mentari di ufuk sana
hembuskan kabus mengabui dunia
lindungilah bumi dan tumbuhan melata
sewajarnyakah sang puteri dilarikan sama?
Di antara hembusan kabus malam
ada tangisan di langit kelam
ada hati yang remuk-redam
ada sendu yang tak pernah padam
tatkala mentari memancarkan siang
meredupkan mimpi setiap kali dipandang
mendamaikan hati setiap kali bertandang
Umpama lorong yang semakin sepi
menyambut laluan sang puteri
permata hatikah yang telah pergi
atau sekadar permainan mimpi?
Sang puterikah yang menjunjung mahkota
menjadi rebutan setiap raja
menjadi sebutan setiap perwira
menjadi umpatan gadis-gadis di dunia?
Dan yang datang menghunus pedang
diakah perwira yang dinantikan menjelang
atau diakah sebenarnya si petualang
sedang dialah yang sentiasa menang?
Sembunyikan mentari di ufuk sana
hembuskan kabus mengabui dunia
lindungilah bumi dan tumbuhan melata
sewajarnyakah sang puteri dilarikan sama?
Di antara hembusan kabus malam
ada tangisan di langit kelam
ada hati yang remuk-redam
ada sendu yang tak pernah padam
Labels:
Teddy
Pernah
Pernah aku cuba
memberikan kau sekuntum bunga
namun katamu tiada pasu
yang cukup indah untuk menghiasnya
Pernah aku cuba
memberikan kau sekuntum cinta
namun katamu tiada jiwa
yang cukup mulia untuk meraganya
Pernah aku cuba
membawamu ke alam kasih
namun katamu tiada indah
yang cukup luhur untuk merasanya
Dan pernah aku lari
membawa diri ke sudut dunia
namun aku harus kembali
kerana padamu hatiku bersemi
Akan kau kembalikankah
hatiku yang lekat terpateri?
Atau akan kontangkah
lautan cinta yang tidak bertepi?
memberikan kau sekuntum bunga
namun katamu tiada pasu
yang cukup indah untuk menghiasnya
Pernah aku cuba
memberikan kau sekuntum cinta
namun katamu tiada jiwa
yang cukup mulia untuk meraganya
Pernah aku cuba
membawamu ke alam kasih
namun katamu tiada indah
yang cukup luhur untuk merasanya
Dan pernah aku lari
membawa diri ke sudut dunia
namun aku harus kembali
kerana padamu hatiku bersemi
Akan kau kembalikankah
hatiku yang lekat terpateri?
Atau akan kontangkah
lautan cinta yang tidak bertepi?
Labels:
Teddy
Monday, July 04, 2005
Titi Cahaya Gelita
titian ini
seakan reput
dimamah usia tua
kemilau syurga
seakan malap
disebalik dosa dan noda
gelap-gelita
menyelimut diri
sedang kaki berpijak kemewahan
ajal yang tiba
tanpa sempat ditebus
kaki yang merantai neraka
seakan reput
dimamah usia tua
kemilau syurga
seakan malap
disebalik dosa dan noda
gelap-gelita
menyelimut diri
sedang kaki berpijak kemewahan
ajal yang tiba
tanpa sempat ditebus
kaki yang merantai neraka
Thursday, June 30, 2005
Bila Salji Berlalu
bila salji berlalu
meninggalkan musim beku
meninggalkan kau dan aku
dingin salji itu
tidak sedingin hatimu
membekukan emosiku
tebar dedaunan
tidak setegar perasaan
yang menembok penghayatan
biru langit siang
tidak secerah kasih sayang
yang diselindung bebayang
liku perjalanan
tidak sebengkok pengharapan
yang berjemala kebodohan
meninggalkan musim beku
meninggalkan kau dan aku
dingin salji itu
tidak sedingin hatimu
membekukan emosiku
tebar dedaunan
tidak setegar perasaan
yang menembok penghayatan
biru langit siang
tidak secerah kasih sayang
yang diselindung bebayang
liku perjalanan
tidak sebengkok pengharapan
yang berjemala kebodohan
Labels:
Teddy
Tuesday, June 28, 2005
Berikan Aku
Berikan aku secebis kasih
dari carik permaidani putih
akan kulembar dengan jerih
hingga ia suci bersih
Berikan aku setitis rasa
yang bertakung di dasar jiwa
akan kurungkai menjadi cinta
lalu kurangkai bersama bahagia
Berikan aku sepalit mimpi
yang bertandang di malam hari
akan kuanyam menjadi realiti
hingga dirimu menjadi permaisuri
dari carik permaidani putih
akan kulembar dengan jerih
hingga ia suci bersih
Berikan aku setitis rasa
yang bertakung di dasar jiwa
akan kurungkai menjadi cinta
lalu kurangkai bersama bahagia
Berikan aku sepalit mimpi
yang bertandang di malam hari
akan kuanyam menjadi realiti
hingga dirimu menjadi permaisuri
Labels:
Teddy
Thursday, June 23, 2005
Purnama
Ada purnama di atasmu,
yang menyinarkan cahaya rindu,
pabila kita tak lagi ketemu,
sinar itu kan jadi sendu.
Ada purnama di atas sana,
yang bersinar untuk kita berdua,
walau di mana pun kau berada,
sang purnama akan menjalin kita.
Ada purnama di langit malam,
seakan tersenyum menghulur salam,
dan kita berdua menyulam janji,
bahawa purnama di langit tinggi,
antara kita menjadi saksi,
yang kita berdua akan kembali,
melunaskan rahsia janji...
yang menyinarkan cahaya rindu,
pabila kita tak lagi ketemu,
sinar itu kan jadi sendu.
Ada purnama di atas sana,
yang bersinar untuk kita berdua,
walau di mana pun kau berada,
sang purnama akan menjalin kita.
Ada purnama di langit malam,
seakan tersenyum menghulur salam,
dan kita berdua menyulam janji,
bahawa purnama di langit tinggi,
antara kita menjadi saksi,
yang kita berdua akan kembali,
melunaskan rahsia janji...
Labels:
Teddy
Tuesday, June 21, 2005
Umpama Lautan
Aku bukan paus yang perkasa
di dasar lautan menawan samudera
sesekali timbul menggegar dunia
akhirnya berajal di pinggan manusia
Bukan juga jerung yang garang
diserang menangkis ditangkis menyerang
seluruh dunia membina sarang
mengisi gentar yang bukan sebarang
Bukan pula udang dan ketam
menghias lautan di iklim malam
menyusur dasar di cahaya kelam
membina kuasa di bahtera yang karam
Sekadar menumpang di pinggir dunia
sambil menghitung dosa pahala
ibarat kuda laut sebesar hama
mengikut arus di lautan gelora
Ada kalanya hilang di pandangan
bersembunyi diam di karang-karangan
bersemadi kekal di dasar lautan
kepada takdir diserahkan kehidupan
Saturday, June 18, 2005
Hanya Serangga
Hanya setitis antara berjuta
bintang yang bertaburan di angkasa
dan aku di dalamnya
lebih halus dari serangga
Sebesar mana pun pangkat dan kuasa
walau mampu menguasai cakerawala
masih setitis antara berjuta
bintang yang bertaburan di angkasa
Menjerit hingga ke hujung suara
ingin menggegar benua
sekadar beralun di telinga
lebih halus dari serangga
bintang yang bertaburan di angkasa
dan aku di dalamnya
lebih halus dari serangga
Sebesar mana pun pangkat dan kuasa
walau mampu menguasai cakerawala
masih setitis antara berjuta
bintang yang bertaburan di angkasa
Menjerit hingga ke hujung suara
ingin menggegar benua
sekadar beralun di telinga
lebih halus dari serangga
Saturday, June 11, 2005
Mulanya Di Sini
Mulanya di sini
kau melangkahkan kaki
bertandang di halaman sebuah famili
yang kau bakal nanti menjadi ahli
Mulanya di sini
dirimu dan mereka saling mengenali
dan semakin hebat debaran di hati
menunggu ketibaan kau nanti
Mulanya di sini
perjalanan ini tiada kembali
kau bakal menjadi puteri
untuk ibuku tuanku permaisuri
Mulanya di sini
bermulanya haluan yang dulunya mimpi
kini terbit menjadi realiti
dan seharusnya bersama kita tempuhi
Mulanya di sini
hidup kita saling menemani
semoga perjalanan ini tidak akan berhenti
selagi syurga belum menjadi destinasi...
Mulanya di sini
dan tidak mungkin akan berhenti lagi....
kau melangkahkan kaki
bertandang di halaman sebuah famili
yang kau bakal nanti menjadi ahli
Mulanya di sini
dirimu dan mereka saling mengenali
dan semakin hebat debaran di hati
menunggu ketibaan kau nanti
Mulanya di sini
perjalanan ini tiada kembali
kau bakal menjadi puteri
untuk ibuku tuanku permaisuri
Mulanya di sini
bermulanya haluan yang dulunya mimpi
kini terbit menjadi realiti
dan seharusnya bersama kita tempuhi
Mulanya di sini
hidup kita saling menemani
semoga perjalanan ini tidak akan berhenti
selagi syurga belum menjadi destinasi...
Mulanya di sini
dan tidak mungkin akan berhenti lagi....
Kecundang
...untuk isteriku yang dikasihi...
Aku kecundang denganmu dewi
tidak berdaya lagi menipu diri
tewas berperang dengan emosi
bahawa padamu ada cinta di hati
Setiap langkahmu mendebarkan dadaku
setiap kerlinganmu menusuk jiwaku
setiap bicaramu melemaskan perasaanku
dan setiap senyummu menyungkurkan diriku
Kau mengajar erti cinta
yang selama ini kufikir sekadar rasa
sekadar mengisi di mana tiada
sekadar mengabui hakikat manusia
Namun hadirmu membangkitkan realiti
sesungguhnya cinta bukan ilusi
bagaimana engkau menggetarkan naluri
sehingga lelah setiap mimpi
Aku kecundang di tanganmu
dan aku tewas dengan diriku
namun kekalahan ini menjadi bukti
bahawa aku telah menang dalam hidup ini
Terima kasih sayang
Cinta hatiku...
Aku kecundang denganmu dewi
tidak berdaya lagi menipu diri
tewas berperang dengan emosi
bahawa padamu ada cinta di hati
Setiap langkahmu mendebarkan dadaku
setiap kerlinganmu menusuk jiwaku
setiap bicaramu melemaskan perasaanku
dan setiap senyummu menyungkurkan diriku
Kau mengajar erti cinta
yang selama ini kufikir sekadar rasa
sekadar mengisi di mana tiada
sekadar mengabui hakikat manusia
Namun hadirmu membangkitkan realiti
sesungguhnya cinta bukan ilusi
bagaimana engkau menggetarkan naluri
sehingga lelah setiap mimpi
Aku kecundang di tanganmu
dan aku tewas dengan diriku
namun kekalahan ini menjadi bukti
bahawa aku telah menang dalam hidup ini
Terima kasih sayang
Cinta hatiku...
Friday, June 10, 2005
Permaisuri Permata Hati
...untuk isteriku yang dikasihi...
Duhai Permaisuri Permata Hatiku
telah terbeban di atas bahuku
tatkala dirimu menjadi milikku
segala amalanmu menjadi amanatku
Duhai Permaisuri permata cinta
hidup yang satu menjadi dua
yang nyata dahulu kini rahsia
yang rahsia dahulu kini nyata
Duhai Permaisuri permata rindu
setiap anggota kuserahkan padamu
dari hujung rambut ke hujung kuku
cantik hodohnya terpulang padamu
Duhai Permaisuri permata sayang
susah hidupku mencari senang
ibarat buku dibongkah terbentang
maka bacalah apa saja yang dikarang
Duhai Permaisuri permata kanda
seluruh jiwaku milik adinda
gelap lakumu maka gelaplah ia
maka sinarkanlah dengan setia
Duhai Permaisuri Permata Hati
bukan dunia yang kuukirkan janji
tetapi kebahagiaan putera dan puteri
andai kekanda yang dahulu pergi
Duhai Permaisuri Permata Hatiku
telah terbeban di atas bahuku
tatkala dirimu menjadi milikku
segala amalanmu menjadi amanatku
Duhai Permaisuri permata cinta
hidup yang satu menjadi dua
yang nyata dahulu kini rahsia
yang rahsia dahulu kini nyata
Duhai Permaisuri permata rindu
setiap anggota kuserahkan padamu
dari hujung rambut ke hujung kuku
cantik hodohnya terpulang padamu
Duhai Permaisuri permata sayang
susah hidupku mencari senang
ibarat buku dibongkah terbentang
maka bacalah apa saja yang dikarang
Duhai Permaisuri permata kanda
seluruh jiwaku milik adinda
gelap lakumu maka gelaplah ia
maka sinarkanlah dengan setia
Duhai Permaisuri Permata Hati
bukan dunia yang kuukirkan janji
tetapi kebahagiaan putera dan puteri
andai kekanda yang dahulu pergi
Thursday, June 09, 2005
Kadangkala
Kadangkala
terasa ingin kembali muda
meniti zaman remaja
Kadangkala
cebisan memori menjelma
mengingatkan setiap peristiwa
Kadangkala
ingatan bersulam mesra
menyuburkan kelopak cinta
Kadangkala
tersungkur di dunia realiti
setiap detik menghitung diri
terasa ingin kembali muda
meniti zaman remaja
Kadangkala
cebisan memori menjelma
mengingatkan setiap peristiwa
Kadangkala
ingatan bersulam mesra
menyuburkan kelopak cinta
Kadangkala
tersungkur di dunia realiti
setiap detik menghitung diri
Tuesday, June 07, 2005
Umpama Sungai Di Muara
Aku berbohong
kalau kukatakan
tiada sepi di hati
Aku berbohong
kalau kukatakan
tiada rindu mencengkam
Umpama sungai di muara
tenang permukaannya
sedang dasarnya bergelora
ada perang antara mereka
antara bahagia dan derita
Bila surut meninggalkan aur
terserlah dasar yang berlumpur
sebahagiannya jijik berdanur
sebahagiannya bakau menyubur
mendamparkan perahu nelayan
terbaring kesepian
kalau kukatakan
tiada sepi di hati
Aku berbohong
kalau kukatakan
tiada rindu mencengkam
Umpama sungai di muara
tenang permukaannya
sedang dasarnya bergelora
ada perang antara mereka
antara bahagia dan derita
Bila surut meninggalkan aur
terserlah dasar yang berlumpur
sebahagiannya jijik berdanur
sebahagiannya bakau menyubur
mendamparkan perahu nelayan
terbaring kesepian
Labels:
Teddy
Monday, June 06, 2005
Akan Kautahu
Akan kau tahu
bila takdir menjadi nyata
dan hakikat menampakkan rupa
Akan kau tahu
bila nasib kedinginan
dan setiap langkah
menuntut pengorbanan
Akan kau tahu
bila realiti kembali
di dalam jaga dan mimpi
setiap belok menjadi pasti
Akan kau tahu
bila sampai waktu
kau harus sabar menunggu
pasrah dengan takdir Tuhanmu
bila takdir menjadi nyata
dan hakikat menampakkan rupa
Akan kau tahu
bila nasib kedinginan
dan setiap langkah
menuntut pengorbanan
Akan kau tahu
bila realiti kembali
di dalam jaga dan mimpi
setiap belok menjadi pasti
Akan kau tahu
bila sampai waktu
kau harus sabar menunggu
pasrah dengan takdir Tuhanmu
Laluan
Mewah laluanku
gemerlap disinar cahaya
berderap dilapis mutiara
bersinar dipancar permata
menuju entah ke mana
Di hujung sana
tersergam apa yang tiada
tegap tanpa nyawa
sedang bukan itu yang kucita
Lalu kembali di sini
menyusur laluan mewah sepi
bersinar berderap memancar tanpa seri
tiada makna lagi
gemerlap disinar cahaya
berderap dilapis mutiara
bersinar dipancar permata
menuju entah ke mana
Di hujung sana
tersergam apa yang tiada
tegap tanpa nyawa
sedang bukan itu yang kucita
Lalu kembali di sini
menyusur laluan mewah sepi
bersinar berderap memancar tanpa seri
tiada makna lagi
Labels:
Teddy
Sunday, May 29, 2005
Puteriku Sayang
Puteriku sayang bidadariku
jangan kau anggap lelaki seteru
sesungguhnya mereka pelindung dirimu
asal kau pandai memilih yang mana satu
Puteriku sayang permata hati
jangan samakan semua lelaki
dan bukannya abah tidak mengasihi
yang penting wahai puteriku, kesejahteraan ummi
Puteriku sayang penyinar bahagia
demimu kan kugadaikan nyawa
setiap yang ada kukorbankan segala
walau dituntut dari jurang pusara
Puteriku sayang kasih abadi
kau kan jadi ibu nanti di suatu hari
pastilah kau juga kan jadi isteri
ingatlah, syurgamu di tangan suami
Puteriku sayang seri kehidupan
pilihlah lelaki yang menggenggam iman
pastinya dia sangat berlainan
di dalam dunia menongkah zaman
Puteriku sayang jangan keliru
sudah lenyap agama di zamanmu
dalam berjuta hanya ada satu
itulah lelaki yang menjadi pelindungmu
Puteriku sayang cinta hatiku
jangan tersesat jalan hidupmu
ingatlah bahawa mati tetap mencarimu
ingatlah kepada Tuhan kembali setiap anggotamu
Puteriku sayang pelita hati
sejahterakan ummi sampai ke mati
jangan derhaka kepada suami
maafkan ayahanda wahai puteri...
jangan kau anggap lelaki seteru
sesungguhnya mereka pelindung dirimu
asal kau pandai memilih yang mana satu
Puteriku sayang permata hati
jangan samakan semua lelaki
dan bukannya abah tidak mengasihi
yang penting wahai puteriku, kesejahteraan ummi
Puteriku sayang penyinar bahagia
demimu kan kugadaikan nyawa
setiap yang ada kukorbankan segala
walau dituntut dari jurang pusara
Puteriku sayang kasih abadi
kau kan jadi ibu nanti di suatu hari
pastilah kau juga kan jadi isteri
ingatlah, syurgamu di tangan suami
Puteriku sayang seri kehidupan
pilihlah lelaki yang menggenggam iman
pastinya dia sangat berlainan
di dalam dunia menongkah zaman
Puteriku sayang jangan keliru
sudah lenyap agama di zamanmu
dalam berjuta hanya ada satu
itulah lelaki yang menjadi pelindungmu
Puteriku sayang cinta hatiku
jangan tersesat jalan hidupmu
ingatlah bahawa mati tetap mencarimu
ingatlah kepada Tuhan kembali setiap anggotamu
Puteriku sayang pelita hati
sejahterakan ummi sampai ke mati
jangan derhaka kepada suami
maafkan ayahanda wahai puteri...
Saturday, May 28, 2005
Kepada Puteraku Yang Dikasihi
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
hadirmu satu kejutan
walaupun sudah dijangkakan
seakan lazim dalam sebutan
lalu kunamakan dirimu Aiman
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
dewasamu pantas mealpakan waktu
tanpa sedar aku tak larat lagi mendukungmu
namun abah dan ummi tak selamanya di sisimu
kelak kamikan pergi jua selama-lamanya meninggalkanmu
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
andai terpisah abah dan ummi
jangan gelisah bertanya hati
ingatlah puteraku sematkan di hati
sesungguhnya kasih ibu kasih abadi
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
sebagai putera sulung yang dewasa
sejahterakanlah ummi hingga ke akhir hayatnya
maafkanlah kami akan kepahitan yang kau rasa
realiti ini wahai puteraku, bukan dipinta
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
panas api tak semestinya bernyala
dingin air tak semestinya gelora
hembusan angin takkan selamanya menyapa
dan duniamu itu takkan abadi selamanya
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
adik-adikmu amanat kami
sekiranya kami melangkah pergi
lalu beban dirimu dan adik-adik selagi di sini
untuk memanjangkan rahmat Tuhan ke pusara kami
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
memberilah engkau pada yang sudi
menerimalah engkau seikhlas hati
jadikan sabar pedoman diri
jadikan Islam pegangan yang abadi
Sesungguhnya
bukan mudah putera yang kukasihi
membezakan khayalan dan realiti
dalam kehidupan yang sementara ini...
membezakan khayalan dan realiti
hadirmu satu kejutan
walaupun sudah dijangkakan
seakan lazim dalam sebutan
lalu kunamakan dirimu Aiman
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
dewasamu pantas mealpakan waktu
tanpa sedar aku tak larat lagi mendukungmu
namun abah dan ummi tak selamanya di sisimu
kelak kamikan pergi jua selama-lamanya meninggalkanmu
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
andai terpisah abah dan ummi
jangan gelisah bertanya hati
ingatlah puteraku sematkan di hati
sesungguhnya kasih ibu kasih abadi
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
sebagai putera sulung yang dewasa
sejahterakanlah ummi hingga ke akhir hayatnya
maafkanlah kami akan kepahitan yang kau rasa
realiti ini wahai puteraku, bukan dipinta
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
panas api tak semestinya bernyala
dingin air tak semestinya gelora
hembusan angin takkan selamanya menyapa
dan duniamu itu takkan abadi selamanya
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
adik-adikmu amanat kami
sekiranya kami melangkah pergi
lalu beban dirimu dan adik-adik selagi di sini
untuk memanjangkan rahmat Tuhan ke pusara kami
Bukan mudah hidup ini
membezakan khayalan dan realiti
memberilah engkau pada yang sudi
menerimalah engkau seikhlas hati
jadikan sabar pedoman diri
jadikan Islam pegangan yang abadi
Sesungguhnya
bukan mudah putera yang kukasihi
membezakan khayalan dan realiti
dalam kehidupan yang sementara ini...
Thursday, May 26, 2005
Ada Ketikanya
Ada ketikanya
air mataku menitis
kerana sakit hati
akan gurauan jahatmu
Ada ketikanya
air mataku menitis
kerana teramat benci
akan sindir cacimu
Ada ketikanya
air mataku menitis
kerana marah yang membara
akan perlakuan layananmu
Namun setiap ketika
air mataku menitis
bila terkenangkan tentang kita
dan setiap yang telah kulalui bersamamu....
air mataku menitis
kerana sakit hati
akan gurauan jahatmu
Ada ketikanya
air mataku menitis
kerana teramat benci
akan sindir cacimu
Ada ketikanya
air mataku menitis
kerana marah yang membara
akan perlakuan layananmu
Namun setiap ketika
air mataku menitis
bila terkenangkan tentang kita
dan setiap yang telah kulalui bersamamu....
Labels:
Teddy
Wednesday, May 25, 2005
Mahligai Yang Runtuh Akhirnya
Mahligai yang bertahun dibina
yang disemai dengan kasih dan cinta
lalu disiram dengan keringat derita
dan dipagari dengan tembok setia
ada retak rupa-rupanya
Yang telah dihalalkan dengan kebencian
akan menjadi kenyataan memeritkan
bukan sengaja jadi pilihan
tapi atas dasar perikemanusiaan
Inilah kebangsatan ketamadunan insan
yang mengembalikan kesedaran
kepada syaitan
lalu bermastautin menjadi rakan....
yang disemai dengan kasih dan cinta
lalu disiram dengan keringat derita
dan dipagari dengan tembok setia
ada retak rupa-rupanya
Yang telah dihalalkan dengan kebencian
akan menjadi kenyataan memeritkan
bukan sengaja jadi pilihan
tapi atas dasar perikemanusiaan
Inilah kebangsatan ketamadunan insan
yang mengembalikan kesedaran
kepada syaitan
lalu bermastautin menjadi rakan....
Friday, April 29, 2005
Pantun
Asap api embun berderai,
Patah galah haluan perahu;
Niat hati tidak mahu bercerai,
Kuasa Allah siapalah yang tahu
Menebar tabir kain berkirai
Jarum peniti memimpin tuju
Marah di zahir harap dilerai
Simpan di hati siapa yang tahu
Patah galah haluan perahu;
Niat hati tidak mahu bercerai,
Kuasa Allah siapalah yang tahu
Menebar tabir kain berkirai
Jarum peniti memimpin tuju
Marah di zahir harap dilerai
Simpan di hati siapa yang tahu
Saturday, April 16, 2005
Ibu Mithali
Susah payah bersabung nyawa
Raung tangisan bukannya pilu
Tiga ayah berkorban nyawa
Tiada tandingan seorang ibu
Derhaka ayah berjanji neraka
Derhaka ibu mengharamkan syurga
Payahnya ayah mewarnakan dunia
Payahnya ibu mengundang syurga
Ibu yang mulia menyemai teladan
Ikrar sabdanya jadi pedoman
Langkah lambainya jadi ikutan
Ibu mithali penghias zaman
Raung tangisan bukannya pilu
Tiga ayah berkorban nyawa
Tiada tandingan seorang ibu
Derhaka ayah berjanji neraka
Derhaka ibu mengharamkan syurga
Payahnya ayah mewarnakan dunia
Payahnya ibu mengundang syurga
Ibu yang mulia menyemai teladan
Ikrar sabdanya jadi pedoman
Langkah lambainya jadi ikutan
Ibu mithali penghias zaman
Ibu
Tersemai benih zuriat
Lalu bertunasnya hikayat
Penderitaan yang mula sarat
Bakal ditanggung sepanjang hayat
Didik dan besarkan menjadi pusaka
Yang bercambah subur menjemput syurga
Yang layu terkubur mengundang neraka
Yang pasti ibu diheret sama
Justeru tiadakah pengorbanan
Yang lebih agung dari kematian
Selain bagi seorang ibu yang melahirkan
Zuriat yang dididik menjadi berlian
Lalu berkilau di langit zaman
Hingga ynag hitam bisa bergemerlapan
Dengan keringat ibu yang kebanjiran
Kepada ibu yang mewarnai dunia
Dengan kemilau zuriat yang berjasa
Di akhirat syurgamu sudah tersedia
Apatah lagi ganjaran di dunia
Lalu bertunasnya hikayat
Penderitaan yang mula sarat
Bakal ditanggung sepanjang hayat
Didik dan besarkan menjadi pusaka
Yang bercambah subur menjemput syurga
Yang layu terkubur mengundang neraka
Yang pasti ibu diheret sama
Justeru tiadakah pengorbanan
Yang lebih agung dari kematian
Selain bagi seorang ibu yang melahirkan
Zuriat yang dididik menjadi berlian
Lalu berkilau di langit zaman
Hingga ynag hitam bisa bergemerlapan
Dengan keringat ibu yang kebanjiran
Kepada ibu yang mewarnai dunia
Dengan kemilau zuriat yang berjasa
Di akhirat syurgamu sudah tersedia
Apatah lagi ganjaran di dunia
Tuesday, April 12, 2005
Sudah Kumengerti
Sudah kau mengerti
yang tersirat di hati
menerima apa yang diberi
tidak mungkin lagi
kerana aku beristeri
Sudah kau mengerti
yang menjadi idaman
namun besarnya halangan
lalu di dalam kenangan
akan terus tersimpan
Sudah kau mengerti
yang takkan dilupa
seabad berganti masa
hingga uzur usia dunia
kau tak mungkin menerima
Sudah kau mengerti
dan sudah kau hindari
yang tinggal hanya sepi
kecewa yang bersebati
sampai mati
yang tersirat di hati
menerima apa yang diberi
tidak mungkin lagi
kerana aku beristeri
Sudah kau mengerti
yang menjadi idaman
namun besarnya halangan
lalu di dalam kenangan
akan terus tersimpan
Sudah kau mengerti
yang takkan dilupa
seabad berganti masa
hingga uzur usia dunia
kau tak mungkin menerima
Sudah kau mengerti
dan sudah kau hindari
yang tinggal hanya sepi
kecewa yang bersebati
sampai mati
Labels:
Teddy
Hujan Kemarau
Ada hujan di puncak gunung
tanpa kilat sabung menyabung
sesekejap ia mencurah lebat
sesekali ia seriat
Ada kemarau di lembah hijau
panasnya umpama besi di relau
setitis air umpama berlian
antara hidupan menjadi rebutan
Hujan di sana sekadar dilihat
kemarau di sini semakin menghangat
kering lidah
kering bibir
kering hati
menanti bakti
Reput sudah dinding rumbia
beratap nipah bertiang saga
angin meniup khabar berita
runtuh pondok di bumi melata
sujud menyembah takdir menimpa
tanpa kilat sabung menyabung
sesekejap ia mencurah lebat
sesekali ia seriat
Ada kemarau di lembah hijau
panasnya umpama besi di relau
setitis air umpama berlian
antara hidupan menjadi rebutan
Hujan di sana sekadar dilihat
kemarau di sini semakin menghangat
kering lidah
kering bibir
kering hati
menanti bakti
Reput sudah dinding rumbia
beratap nipah bertiang saga
angin meniup khabar berita
runtuh pondok di bumi melata
sujud menyembah takdir menimpa
Labels:
Teddy
Wednesday, March 30, 2005
Sehari
Sehari demi sehari
aku masih di sini
harap-harapnya nanti
janganlah sampai ke mati
aku kekal menjadi abdi
atau pengalas kaki
aku masih di sini
harap-harapnya nanti
janganlah sampai ke mati
aku kekal menjadi abdi
atau pengalas kaki
Thursday, March 10, 2005
Derhaka
Seribu tahun takkan mungkin
menjelmakan di dalam diri secebis keinsafan
bahawa dia hanya manusia biasa yang tidak berbeda
sekiranya selama bertahun ini dia menyangka
hanya dengan ketinggian pangkat dan limpahan harta
bahawa dia adalah Buddha yang Berkuasa....
menjelmakan di dalam diri secebis keinsafan
bahawa dia hanya manusia biasa yang tidak berbeda
sekiranya selama bertahun ini dia menyangka
hanya dengan ketinggian pangkat dan limpahan harta
bahawa dia adalah Buddha yang Berkuasa....
Tuesday, March 01, 2005
Hari Yang Berseri
Pagi indah yang berseri
kicau burung kembali menyanyi
senyum terukir membelah pipi
hari ini sudah ada gaji!
Bibir tak lekang dengan siulan
fikiran merangka berbagai rancangan
ke arah mana harus dibelanjakan
duit yang sudah terkepuk di simpanan
Haruskah ditabur kepada perempuan
yang sudi memperaga badan
atau dibeli segala pakaian
kerana sudah buruk baju di badan
Ataukah menyendiri di pawagam
menonton aksi lawak dan seram
sambil-sambil tangan menggenggam
perawan jelita yang pehanya mengancam
Atau haruskah dibiarkan sahaja
duit berkepuk mencipta bunga
ratus ribu menjadi berjuta
hendak merasa menjadi kaya
Biarlah masjid tidak berlampu
sejadah terhampar terus berbau
air di kolah berwarna kelabu
bukannya aku bermastautin di situ
Biarlah pusara terus bersamun
ular dan biawak saling menyamun
najis dan sampah makin bertimbun
mereka di sana tak mungkin kan bangun
Zakat?
Sedekah?
Apakah itu?
Akan bercambahkah wang di saku?
Mungkin tiada jaminan begitu..
tapi tanpanya, dijamin neraka bagimu.....
kicau burung kembali menyanyi
senyum terukir membelah pipi
hari ini sudah ada gaji!
Bibir tak lekang dengan siulan
fikiran merangka berbagai rancangan
ke arah mana harus dibelanjakan
duit yang sudah terkepuk di simpanan
Haruskah ditabur kepada perempuan
yang sudi memperaga badan
atau dibeli segala pakaian
kerana sudah buruk baju di badan
Ataukah menyendiri di pawagam
menonton aksi lawak dan seram
sambil-sambil tangan menggenggam
perawan jelita yang pehanya mengancam
Atau haruskah dibiarkan sahaja
duit berkepuk mencipta bunga
ratus ribu menjadi berjuta
hendak merasa menjadi kaya
Biarlah masjid tidak berlampu
sejadah terhampar terus berbau
air di kolah berwarna kelabu
bukannya aku bermastautin di situ
Biarlah pusara terus bersamun
ular dan biawak saling menyamun
najis dan sampah makin bertimbun
mereka di sana tak mungkin kan bangun
Zakat?
Sedekah?
Apakah itu?
Akan bercambahkah wang di saku?
Mungkin tiada jaminan begitu..
tapi tanpanya, dijamin neraka bagimu.....
Saturday, February 26, 2005
Sabtu Baru
Sabtu Baru
Sabtu datang lagi
tersengih menayang gigi
bukan salah pada hari
tapi salah pada diri
Sabtu datang lagi
aku ke pejabat juga
membuang masa berharga
masa untuk aku dan keluarga
masa untuk majikan dan pekerja
masa untuk menambah pahala
langsung berganti dosa
Sabtu masih datang
kali ini dengan jerebu yang semakin garang
Menara KL sudah tiada di awang-awang
landasan LRT tampak umpama tiang
batuk dan selesema menjadi teman setiap orang
namun aku masih di luar sana menyedut bahang
Sabtu akan selamanya begini
selagi aku masih di sini
lalu semestinya hendak pergi
mencari hidup yang lebih berkualiti
agar tidak subahat dalam menganiaya
sesama insan sesama hamba
mudah-mudahan Allah makbulkan
niat di hati mencari kebenaran
dan dalam rezeki insyaAllaah ada keberkatan
Sabtu datang lagi
tersengih menayang gigi
bukan salah pada hari
tapi salah pada diri
Sabtu datang lagi
aku ke pejabat juga
membuang masa berharga
masa untuk aku dan keluarga
masa untuk majikan dan pekerja
masa untuk menambah pahala
langsung berganti dosa
Sabtu masih datang
kali ini dengan jerebu yang semakin garang
Menara KL sudah tiada di awang-awang
landasan LRT tampak umpama tiang
batuk dan selesema menjadi teman setiap orang
namun aku masih di luar sana menyedut bahang
Sabtu akan selamanya begini
selagi aku masih di sini
lalu semestinya hendak pergi
mencari hidup yang lebih berkualiti
agar tidak subahat dalam menganiaya
sesama insan sesama hamba
mudah-mudahan Allah makbulkan
niat di hati mencari kebenaran
dan dalam rezeki insyaAllaah ada keberkatan
Friday, December 03, 2004
Kain Basah
Basahnya kain itu
hingga menitis-nitis ke sepatu
membasahkan bumi yang tadi layu
hingga kembali menyuburkan setiap helaian semalu
Dihulurkan tangan perkasa
kain diperah sekudrat tenaga
hingga banjir rumput dan lalang melata
lalu tenggelam hingga kempunan lembu dan kuda
Kain kini kering-kontang
tersidai di terik mentari berbahang
semakin keras merekah diratah mentari yang garang
sedang bumi yang banjir semakin tenggelam hilang
lalu menjadi paya yang gersang
keruh airnya terhidang
selut dasarnya maut bersarang
dan kain yg kering semakin reput terbuang....
hingga menitis-nitis ke sepatu
membasahkan bumi yang tadi layu
hingga kembali menyuburkan setiap helaian semalu
Dihulurkan tangan perkasa
kain diperah sekudrat tenaga
hingga banjir rumput dan lalang melata
lalu tenggelam hingga kempunan lembu dan kuda
Kain kini kering-kontang
tersidai di terik mentari berbahang
semakin keras merekah diratah mentari yang garang
sedang bumi yang banjir semakin tenggelam hilang
lalu menjadi paya yang gersang
keruh airnya terhidang
selut dasarnya maut bersarang
dan kain yg kering semakin reput terbuang....
Sabtu
Hari ini hari Sabtu
Orang lain belum buka pintu
Aku dah ada kat opis mati kutu
Sabtu depan macam mana
Kalau aku tak datang pun siapa yang nak tanya
Kalau aku datang pun bukan buat apa-apa
Jadi aku nekad buat keputusan
Selangor sambut bedey Sultan Sabtu depan
Aku nak ikut sambut bedey Sultan
Sabtu depan aku diam-diam aja
Tak payah cuti tapi aku tak datang kerja
Lantak koranglah nak kata aku ponteng ke hape
Kalau ada peluang, mesti korang pun buat juga!!!
Orang lain belum buka pintu
Aku dah ada kat opis mati kutu
Sabtu depan macam mana
Kalau aku tak datang pun siapa yang nak tanya
Kalau aku datang pun bukan buat apa-apa
Jadi aku nekad buat keputusan
Selangor sambut bedey Sultan Sabtu depan
Aku nak ikut sambut bedey Sultan
Sabtu depan aku diam-diam aja
Tak payah cuti tapi aku tak datang kerja
Lantak koranglah nak kata aku ponteng ke hape
Kalau ada peluang, mesti korang pun buat juga!!!
Kiranya
Kiranya kukorbankan masa
sehingga terkorbannya agama
lalu dilaknat di neraka
semuanya kerana kerja
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Kiranya berkhidmat setia
menurut perintah ibarat hamba raja
disuruh kubuat semuanya rela
hingga sanggup menyabung harta dan nyawa
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Kiranya isteri semakin jemu berkata-kata
anak-anak di rumah ibarat yatim nestapa
makanan dihidang dijamu tanpa kehadiran bapa
sekadar bersembang sepi antara anak-anak dan bondanya
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Seandainya tiba ketika yg keji
Apabila aku hidup atas ehsan isteri
makan dan minum atas tanggungannya
duit public toilet pun atas belanjanya
dan gaji masih tiada
apa ke bodoh sangat tak cari aje lain kerja??????
sehingga terkorbannya agama
lalu dilaknat di neraka
semuanya kerana kerja
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Kiranya berkhidmat setia
menurut perintah ibarat hamba raja
disuruh kubuat semuanya rela
hingga sanggup menyabung harta dan nyawa
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Kiranya isteri semakin jemu berkata-kata
anak-anak di rumah ibarat yatim nestapa
makanan dihidang dijamu tanpa kehadiran bapa
sekadar bersembang sepi antara anak-anak dan bondanya
masihkah berbaloi jika gaji tiada?
Seandainya tiba ketika yg keji
Apabila aku hidup atas ehsan isteri
makan dan minum atas tanggungannya
duit public toilet pun atas belanjanya
dan gaji masih tiada
apa ke bodoh sangat tak cari aje lain kerja??????
Monday, July 26, 2004
Semakin Jauh
Tanyakan dalam tidur dan jaga
masihkah ada kasih dan rindu
biarpun setitis cuma
Ada bisikan menyapa hati
semakin sayup kedengarannya
semakin jauh langkahnya
bakal hilangkah di sebalik mimpi?
Derap langkah ini
semakin perlahan menyarut bumi
mungkin akan menghempaskan tubuh
di tanah gersang yang berdebu
Tatkala mentari masih menyinar
mimpi terus berligar
menghias lena yang takkan sedar
masihkah ada kasih dan rindu
biarpun setitis cuma
Ada bisikan menyapa hati
semakin sayup kedengarannya
semakin jauh langkahnya
bakal hilangkah di sebalik mimpi?
Derap langkah ini
semakin perlahan menyarut bumi
mungkin akan menghempaskan tubuh
di tanah gersang yang berdebu
Tatkala mentari masih menyinar
mimpi terus berligar
menghias lena yang takkan sedar
Saturday, July 24, 2004
Perjalanan
Sedang dalam perjalanan
mencari perhentian
hanya sendirian
Mungkin bermusafir
sampai titis akhir
dalam kemarau dan banjir
Mungkinkah akhirnya ketemu
permata nikmat di tasik madu
yang kian dirindu?
mencari perhentian
hanya sendirian
Mungkin bermusafir
sampai titis akhir
dalam kemarau dan banjir
Mungkinkah akhirnya ketemu
permata nikmat di tasik madu
yang kian dirindu?
Masihkah Seperti Dulu
Masihkah seperti dulu
bila tempoh memisahkan
dalam jarak yang keterlaluan
Masihkah seperti dulu
bila bicara menjadi singkat
salam dan khabar tidak berikat
Masihkah seperti dulu
bila yang lain mengisi hati
menghibur duka meneman diri
Masihkan ada aku
di cebisan kecil hatimu
pabila hadir rindu?
bila tempoh memisahkan
dalam jarak yang keterlaluan
Masihkah seperti dulu
bila bicara menjadi singkat
salam dan khabar tidak berikat
Masihkah seperti dulu
bila yang lain mengisi hati
menghibur duka meneman diri
Masihkan ada aku
di cebisan kecil hatimu
pabila hadir rindu?
Thursday, July 22, 2004
Dari Jauh
Jauhnya perjalanan ini
tak sejauh yang kurasakan
rindu di hati
Panjangnya masa penantian
tak sepanjang yang kupanjatkan
doa dan harapan
Sepinya malam mengganti hari
tak sesepi yang kupasrahkan
Tanpamu di sisi
Agungnya cinta Uda dan Dara
tak seagung yang kukorbankan
Cintaku padanya
tak sejauh yang kurasakan
rindu di hati
Panjangnya masa penantian
tak sepanjang yang kupanjatkan
doa dan harapan
Sepinya malam mengganti hari
tak sesepi yang kupasrahkan
Tanpamu di sisi
Agungnya cinta Uda dan Dara
tak seagung yang kukorbankan
Cintaku padanya
Wednesday, July 21, 2004
Aku Rindu Teramat Padamu
Ingin kukhabarkan kepadamu bisikan ini
Yang semakin subur disiram rindu
Sungguh pada kejauhan yang memeritkan
Aku rindu teramat padamu
Lagukan melodi yang mengalun di hati
Dalam irama yang menyentuh hatimu
Mengiringi sendu dan sebak bersebati
Aku rindu teramat padamu
Sambutlah sentuhan yang dihulur ikhlas
Untuk menghangatkan kasih yang membakar
Agar bersemadi setiap cebis kenangan
Yang ingin kurangkai menjadi rantai
Lalu kusarungkan ke lehermu
Biar kemilau kasih dan rindu
Abadi ke akhir waktu
Sungguh
Aku rindu teramat padamu...
Yang semakin subur disiram rindu
Sungguh pada kejauhan yang memeritkan
Aku rindu teramat padamu
Lagukan melodi yang mengalun di hati
Dalam irama yang menyentuh hatimu
Mengiringi sendu dan sebak bersebati
Aku rindu teramat padamu
Sambutlah sentuhan yang dihulur ikhlas
Untuk menghangatkan kasih yang membakar
Agar bersemadi setiap cebis kenangan
Yang ingin kurangkai menjadi rantai
Lalu kusarungkan ke lehermu
Biar kemilau kasih dan rindu
Abadi ke akhir waktu
Sungguh
Aku rindu teramat padamu...
Monday, July 19, 2004
Malamku Kini
Gelap yang menyelimuti buana
Tiada bezanya di sana mahupun di sini
Kecuali engkau
Dering dan getar telefon di meja
Di saat ini seakan sudah terkubur mati
Tiada pesanan yang dihantar mahupun diterima
Seperti kau sudah tiada lagi di sisi
Lunak suaramu yang berbisik di telingaku
Setiap kali kau berbicara di talian
Melafazkan rindu dan sayangmu
Sehingga aku terlena kesiangan
Kini tidak lagi kedengaran
Malam yang sering ditemani belaianmu
Biar sekadar dalam pesanan
Seakan dapat kurasakan
Masih dalam rindu dan rasa
Halus jemarimu di dadaku
Lembut usapanmu di rambutku
Basah bibirmu di bibirku
Kedap rangkulanmu di leherku
Hangat tubuhmu menyelimut tubuhku
Lena tidurmu di sisi tidurku
Jauh mimpimu menemani mimpiku
Gelap malammu digenggam malamku...
Bisakah aku bayangkan
Dan sudikah kau merelakan
Seakannya kau masih di sisiku
Dan kita saling rindu berpelukan...?
Tiada bezanya di sana mahupun di sini
Kecuali engkau
Dering dan getar telefon di meja
Di saat ini seakan sudah terkubur mati
Tiada pesanan yang dihantar mahupun diterima
Seperti kau sudah tiada lagi di sisi
Lunak suaramu yang berbisik di telingaku
Setiap kali kau berbicara di talian
Melafazkan rindu dan sayangmu
Sehingga aku terlena kesiangan
Kini tidak lagi kedengaran
Malam yang sering ditemani belaianmu
Biar sekadar dalam pesanan
Seakan dapat kurasakan
Masih dalam rindu dan rasa
Halus jemarimu di dadaku
Lembut usapanmu di rambutku
Basah bibirmu di bibirku
Kedap rangkulanmu di leherku
Hangat tubuhmu menyelimut tubuhku
Lena tidurmu di sisi tidurku
Jauh mimpimu menemani mimpiku
Gelap malammu digenggam malamku...
Bisakah aku bayangkan
Dan sudikah kau merelakan
Seakannya kau masih di sisiku
Dan kita saling rindu berpelukan...?
Subscribe to:
Posts (Atom)